Archive for April, 2008

kegagalan cinta
rhoma irama

cukup sekali aku merasa kegagalan cinta
tak ‘kan terulang kedua kali di dalam hidupku
oh, ya nasib, ya nasib, mengapa begini
baru pertama bercinta sudah menderita
cukup sekali aku merasa kegagalan cinta

kau yang mulai kau yang mengakhiri
kau yang berjanji kau yang mengingkari
kau yang mulai kau yang mengakhiri
kau yang berjanji kau yang mengingkari
kalau akan begini akhirnya
tak mau dulu ‘ku bermain cinta

ada banyak orang protestan mengatakan bahwa term ecclesia reformata semper reformanda merupakan trademark protestantisme. mereka lazimnya merujuk pada tulisan gisbertus voetius (1589-1676), yg aslinya berbunyi ecclesia reformanda quia reformata (gereja harus diperbarui karena sudah diperbarui). sebenarnya pandangan ini kurang tepat, karena term semper reformanda sebenarnya berakar jauh dalam tradisi katolik sebelumnya. bukan ecclecia reformata tapi semper reformanda atau ecclesia semper reformanda.

gereja katolik selalu mengklaim bahwa ecclesia semper reformanda (gereja selalu diperbarui) selalu harus didampingkan dengan klaim lain ecclesia semper eadem (gereja selalu sama). ketika keduanya disatukan akan muncul pemahaman yang agak berbeda dari yg dipaparkan voetius. dengan kedua term itu gereja katolik ingin menegaskan bahwa gereja sekaligus sama sekaligus diperbarui. pembaruan berarti pemurnian (semper purificanda).

ada poin penting dari klaim gereja katolik yang harus digumuli oleh orang-orang protestan, karena term ecclesia reformata (gereja yang sudah diperbarui) bisa mengakibatkan keterputusan total dari gereja segala abad.

[diedit dari sebuah posting ke sebuah milis]

agaknya gereja-gereja protestan pada umumnya masih terus menerima sola scriptura, sekalipun kadar penerimaannya mungkin berbeda-beda. secara umum diterima bahwa alkitab dikanonisasi oleh gereja yang telah memiliki tradisi sebelumnya. kanon alkitab pada tingkat tertentu bisa dikatakan lahir dari rahim tradisi.

harus diingat bahwa ketiga sola dalam protestantisme lahir untuk menjawab situasi real saat itu, bukan untuk menjawab *berapa* sumber otoritas yang harus diterima. dalam pengertian itu sola scriptura dipakai untuk menegaskan bahwa norma yang tertinggi dalam hidup kristiani adalah alkitab. bukan tradisi gereja saat itu.

kalau soal berapa sumbernya, sering dikatakan bahwa kekristenan selalu mengenal empat sumber utama (theological quadrilateral, kata orang2 methodist): alkitab, tradisi, akalbudi dan pengalaman. mereka yg menerima sola scriptura dan masih tetap mengakui tradisi mengatakan bahwa alkitab adalah “norma yang mengukur tapi tidak diukur oleh norma lain” (norma normans sed non normata). sedang ketiga norma lain adalah “norma yang mengukur tapi diukur oleh norma lain (yaitu alkitab)” (norma normans normata). saya sendiri mempercayai bahwa keempat-empatnya harus dianggap sebagai “norma normans normata” dan kristuslah yang menjadi “norma normans non normata”

namun, selain itu, perlu juga dibedakan antara traditio (proses utama penurunalihan sejak awal) dan traditum (isi yang diturunalihkan). agaknya sola scriptura dipakai oleh para reformator untuk menolak traditum gereja katolik saat itu, bukan untuk menolak traditio secara umum, yang diturunalihkan sejak dan oleh bapa-bapa gereja. singkatnya, penerimaan terhadap sola scriptura tidak sama dengan mengatakan: nulla traditio (tanpa tradisi).

lebih dari itu, sebenarnya menurut saya tak cukup hanya tiga sola. karena dalam berbagai bidang lain kita tetap membutuhkan sola-sola lain: sola pneuma, sola ecclesia, sola trinitas, sola spe, solus mundus, dll … bergantung hal apa yg tengah dibahas. misalnya, kalau kita bicara perihal apa yg menyelamatkan kita, ya solo christo. dan harus menolak sola scriptura, karena alkitab tidak menyelamatkan. jika bicara soal allah macam apa yg kita bicarakan kita meyakini sola trinitas dan menolak solo christo, karena akan menjebak kita pada christomonisme. dst …

[diedit dari posting ke sebuah milis]

tadi siang, tepatnya kemarin siang, karena sekarang telah lewat tengah malam dan menjelang subuh, saya dan seorang teman dari gereja orthodox mengunjungi sebuah baiara orthodoks di kawasan brookline. namanya the holy transfiguration monastery. joshua, demikian nama teman saya, mengantar saya untuk mencari replika ikon the holy trinity dari andrei rublev yang tersohor itu. memasuki ruang depan biara, bau incense yang semerbak dan ruangan penuh dengan ikon menghantar saya pada gerbang misteri iman yang tak terhampiri selain lewat puja-puji. beberapa tahun terakhir kekaguman saya tradisi orthodoks timur memang makin menguat dan mempengaruhi cara pandang teologis yang, khususnya dalam hal teologi trinitarian. disertasi yang saya tulis, perihal makna perichoresis untuk teologi agama-agama sangat kuat dipengaruhi bapa-bapa gereja timur.

di biara itu, kami disambut seorang biarawan yang mempersilakan kami kembali dalam setengah jam karena ibadah siang yang belum rampung, sembari ia mempersilakan kami ikut dalam jamuan siang mereka. sayang, makan siang a la vietnam bersama joshua di atrium mall sungguh mengeyangkan. untuk mengisi waktu joshua mengajak saya mengunjungi toko buku holy cross seminary, tempat ia dulu menjalani pendidikan teologi.

akhirnya kami kembali ke biara dan memasuki toko yang menjual ikon dan alamat-alamat ibadah lain. ada ratusan ikon indah terpajang di sana. ada rasa menyekat menyaksikan karya artistik luar biasa itu. sayang ikon rublev yang saya cari tak ada di sana. rupanya, saya baru menyadarinya, biara tersebut berasal dari tradisi yunani, sedang andrei rublev merupakan seorang orthodoks dari tradisi rusia.

namun siang ini saya gembira.

dalam perjalanan pulang, saya melihat seorang biarawan tua, tengah bekerja di taman. tepatnya: tengah berdoa melalui pekerjaannya di taman.

saya lantas ingat pengalaman ekumenis yang sempat saya cicipi, ketika mengikuti konperensi misi dan penginjilan dunia di brasil beberapa belas tahun lalu. saya ingat bagaimana kami, anak-anak muda suka menjahili imam-imam katolik, dengan menarik-narik rambut mereka yang panjang. ah, lengkapnya tak usah diceritakan. memalukan …