Archive for March, 2008

Sementara menulis perihal perichoresis dalam tulisan bapa-bapa gereja, sebuah kutipan dari Maximus the Confessor sangat menarik perhatian. Saya kutipkan di bawah ini:

The soul’s salvation is the consummation of faith. This consummation is the revelation of what has been believed. Revelation is the inexpressible interpenetration (perichoresis) of the believer with (or toward, pros) the object of belief and takes place according to each believer’s degree of faith. Through that interpenetration the believer finally returns to his origin. The return is the fulfillment of desire. Fulfillment of desire is ever-active repose in the object of desire. Enjoyment of this kind entails participation in supranatural divine reality. This participation consists in the participant becoming like that in which he participates. Such likeness involves, so far as this is possible, an identity with respect to energy between the participant and that in which he participates by virtue of the likeness. This identity with respect to energy constitutes the deification of the saints. (Ad Thal. 59, PG 90.608C-609B)

kurang dua bab lagi disertasiku rampung. tepatnya, tiga bab lagi, beserta bab penyimpul sekian halaman yang tentunya tak terlalu sukar. namun dua bab terakhir sungguh menyulitkan. rasanya tak ada kekuatan yang tersisa. aku sudah mulai tua rupanya. dan anak terkecilku masih delapan bulan. setiap hari, saat paling nyaman untuk menulis adalah setelah semua penghuni rumah nyenyak. dan aku mampu menulis dengan sangat nikmat hingga sekitar pukul empat pagi. namun setelah berbulan-bulan, remuk juga badan ini rasanya. ngilu dan letih.

dua bab terakhir menjadi pusat seluruh disertasi. yang mau kurumuskan adalah sebuah teologi agama-agama yang berporos pada nosi perichoresis, sebuah gagasan para bapa gereja perihal persekutuan ilahi allah tritunggal: unity-in-communion, sebuah tarian ilahi, di mana seluruh makhluk diundang untuk ikut menari di dalamnya, tanpa kehilangan jati diri dan keunikan. tentu: apa yang tertuang tak sesederhana ini. namun, kerumitan yang kerap menyenangkan untuk diselami ini lebih-lebih dikarenakan imaji perichoresis yang pada dirinya sarat dengan letupan kemungkinan imajinatif. melaluiny–ini gagasan utamaku–kita dimungkinkan untuk merayakan hidup yang berpusat pada sang tiga-esa itu sambil mengintip kemajemukan agama-agama tanpa tendensi untuk membingkai mereka ke dalam sebuah potret kaku doktrinal. perichoresis ilahi memungkinan sebuah imaginative glimpse.

perichoresis juga sebuah imaji yang mengejutkan karena allah yang menari dalam tarian kosmis mengitari chora, sebuah dimensi unik yang dalam filsafat plato ternyata menjadi sebuah pengganggu sistem berfilsafatnya. the perichoretic theology of religions yang kugagas juga berupaya menyuguhkan sosok tarian ilahi yang menghadirkan allah tak lagi sekedar sebagai sebuah being-itself yang bertutur-kata dengan non-being, namun allah yang merupakan sebuah kemungkinan: the god who may be, or the possible god. sang-mungkin (posse) lantas menjadi sebuah ranah baru untuk menyapa allah yang layak dikunjungi, yang memberi banyak kekayaan luhur dibanding allah sebagai sang-ada (esse).

ah, maafkan celotehanku ini. aku hanya letih saja bersolilokui menyongsong fajar setiap hari. kini, “aku mau membangunkan fajar!” (maz. 57:8)