Archive for November, 2007

refleksi di bawah merupakan salinan posting saya di milis ficanet, ketika berdiskusi keras dengan seseorang yang menempatkan saya pada serentetan penghakiman yang amat lazim saya alami: joas liberal, sesat, antikristus dan sebagainya. posting respon saya telah saya edit untuk menghilangkan konteks kemunculannya.

j.a.

The Hybrid Joas

ada banyak orang yang terlalu suka memakai binary thinking, seolah2 hanya ada dua kemungkinan: injili dan sisanya. inerrantists dan sisanya (padahal varian terlalu banyak). saya menolak cara berpikir itu dan meyakini bahwa
selalu saja ada inner-diversity dalam diri setiap teolog yang (berusaha untuk) mature.

jadi apakah saya liberal, postliberal, atau injili? ini jawaban saya: ketiga2nya, bukan ketiga2nya, sekaligus ketiga2nya, sekaligus lebih dari ketiganya, sekaligus kurang dari ketiganya. lho? kok gitu? (mereka yg memakai binary thinking akan langsung mendapat celah untuk menyerang apa yg mereka sebut inkonsistensi–yg akan saya jelaskan di bawah).

hidup berteologi (dan semua orang kristen adalah teolog - by definition!) adalah sebuah pengembaraan yang kompleks dan melelahkan. laksana kembara di hutan dengan biodiversity yang sangat-sangat kaya dan kompleks.

ia juga bagai menghadiri pesta maha-besar dengan anekarupa masakan. anda bisa hanya mengambil nasi putih dan krupuk, atau menikmati serbaneka masakan yg tersaji. ada beberapa kemungkinan:

A. HANYA NASI-KRUPUK

1. andi hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa masakan lain tak enak.
2. biduk hanya mengambil nasi dan krupuk tapi tidak mengatakan bahwa masakan lain tak enak.
3. charlie hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa masakan lain enak, tapi tak berani mengambilnya, karena tak pernah.
4. duma hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa nasi-krupuk cukup dan bahwa mengambil masakan lain bisa berarti makan berlebihan.

B. TAK-HANYA-NASI-KRUPUK
5. eko mengambil semua makanan yang ada dan menikmati semuanya.

sementara ada banyak orang yang tampak mengambil peran andi, saya memilih peran eko. lho, bukankah eko rakus dan andi tak rakus? belum tentu! amat mungkin andi makan nasi-krupuk dalam jumlah berlebihan dan amat mungkin eko makan seluruh jenis makanan secukupnya. poinnya bukan soal jumlah, namun soal merayakan pesta yang diselengarakan tuan rumah. dan saya memilih menghargai tuan rumah dengan menyantap seluruh jenis makanan yg tersaji.

saya memilih menghargai kristus, pemilik gereja kristus, dengan menghargai seluruh tradisi yang hadir di dalamnya. saya memilih memberi atensi yang sama terhadap seluruh anggota tubuh (kristus), tinimbang tak menjaga kesehatan anggota tubuh lain dan sibuk asyik-mashyuk dengan urusan jerawat di pipinya saja. saya memilih untuk mulai dengan 2 potong sushi dengan sedikit wasabi dicampur sauce, dilanjutkan kungpao chicken secuil, lalu nasi liwet seadanya, dst dsb …

lalu apa teologi saya? saya seorang liberal? YA! saya seorang postliberal? YA! saya seorang injili? YA!

+ ketika berurusan dengan penghargaan pada kemanusiaan, saya seorang liberal (sekalipun sedang memperhatikan dengan seksama suara2 komunitarianisme).
+ saya seorang postliberal, dalam hal pentingnya menjadi identitas kristiani.
+ saya seorang barthian dalam menghargai kristus lebih dari alkitab.
+ dalam hal pneumatologi, saya lebih dekat dengan teologi ortodoks-timur.
+ dalam hal tritunggal, pengaruh bapa2 kapadokia amat kuat buat saya.
+ dalam hal doktrin penciptaan saya terombang-ambing antara neville dan moltmann.
+ dalam hal teologi agama-agama, saya seorang singularis-trinitarian.
+ dalam hal doktrin penebusan, saya penganut christus-victor theory dan makin senang dengan girard dan heim.
+ dalam hal relasi-antar-gereja, saya jelas seorang ekumenikal.
+ dalam urusan eskatologi, saya suka dengan this-worldly model.
+ saya juga suka dengan tema graced-nature rahner dan katolik.
++++ dan seratus satu tema lain.

di pihak lain, cara pandangnya bisa diubah: apa yang saya TAK suka. dan saya bisa masuk pada seratus satu daftar berikutnya. misalnya: saya menolak ineransi dari injili, saya menolak hidden-foundationalism dari teolog liberal dan minimnya penghargaan pada wahyu ilahi. dll dst dsb …

dan di antara kedua titik-ujung ini tentu ada gradasi sikap: tertarik pada sesuatu, curiga pada yg lain, netral pada satunya lagi, dst. thus, saya seorang teolog hybrid. dan di atas segalanya, saya seorang kristen yang mengasihi allah, a beloved son of god! sikap yg sama agaknya ditunjukkan oleh brian mclaren, seorang injili dari kalangan emergent church. judul bukunya menarik:

A Generous Orthodoxy: Why I Am a Missional, Evangelical, Post/Protestant, Liberal/Conservative, Mystical/Poetic, Biblical,
Charismatic/Contemplative, Fundamentalist/Calvinist, Anabaptist/Anglican, Methodist, Catholic, Green, Incarnational, Depressed-yet-Hopeful, Emergent, Unfinished CHRISTIAN.

jadi itu posisi saya. positionless position. ekstrim tengah. berusaha meyakini bahwa kompromi (Lt: co+promise) teologi adalah kebajikan tertinggi dalam teologi sekaligus tapak berbahaya yg harus diriskir. yang tak lagi menonton televisi B/W, namun belum mampu beli TV high-definition. yg kritis pada reformed-injili namun suka datang ke ibadah mereka. yang bergereja dan menjadi pendeta gki, namun kritis terhadap banyak hal dari gki.

btw, jika anda bertanya pada saya setahun lagi, siapa saya … daftar di atas tentu akan berubah. karena teologi sangat joyful sekaligus dinamis. sebagian aspek akan bertahan dan malah makin kuat. sebagian lagi akan saya tinggalkan dan saya kritisi. insya allah … semua proses membuat saya makin injili sekaligus makin liberal, makin katolik dan makin protestan, makin kristen sekaligus makin humanis.

o, ya, satu lagi: saya sangat meyakini bahwa doktrin apa pun tidak menyelamatkan. hanya kristus yg menyelamatkan.

Powered by ScribeFire.