Archive for June, 2007

Di Bandara Logan, Boston, sepulang dari Philadelphia, aku menanti jemputan. Seorang rahib Buddha yang masih cukup muda mendekatiku dan berdiri di sampingku. Kusapa dia, namun percakapan tak berjalan baik, karena sang rahib tak bisa berbahasa Inggris. Hanya sempat kuketahui, dia berasal dari Kamboja.

Lantas, ia mengeluarkan sekotak bungkus rokok, 555. Tinggal dua biji. Diambilnya satu dan diisap dengan bergitu nikmat. Itu kali pertama aku melihat seorang rahib Buddha merokok. Sesaat kemudian, seorang muda, bule bertatto, mendekatinya dan meminta rokok pada rahib tersebut. Dan rahib itu menyerahkan satu-satunya rokok yang tersisa kepada anak muda itu.

Di rumah, masih terus terbayang imaji seorang rahib Buddhist yang merokok. Kucari di Google dengan kata kunci: smoking Buddhist monk … dan ternyata ada banyak studi tentang kebiasaan merokok yang cukup tinggi di kalangan rahib Buddhist. 23.4% rahib Buddhist konon memiliki kebiasaan merokok1.

  1. lihat situs ini: http://abc.net.au/science/news/health/HealthRepublish_1380995.htm []

Sudah cukup lama rasanya saya tercerabut dari akar ke-asia-an kegiatan berteologi saya. Kesempatan belajar ke Boston membuat saya begitu menikmati hutan rimba teologi-berteologi yang lebih global wataknya. Tradisi kristiani dari berbagai zaman dan tempat begitu mempesona saya.

Hingga, minggu lalu, sebuah kenangan akan akar keasiaan saya digugah ulang, lewat the Asian Theological Summer Institute yang diselenggarakan di Lutheran Theological Seminary at Philadelphia, 29 Mei-3 Juni 2007. Dalam pertemuan ini lima belas mahasiswa doktoral yang tengah mempersiapkan disertasi diundang untuk mempresentasikan gagasan disertasinya, lantas digodok bersama dengan bantuan lima mentor profesor asal Asia yang mengajar di berbagai sekolah di Amerika dan Inggris: Paul Rajashekar, Kwok Pui-lan, R.S. Sugirtharajah, Andrew Sung Park, dan Eleazar Fernandez.

Pertemuan ini sungguh memberi letupan spiritual yang kuat. Apalagi ketika kelima mentor tersebut mensharingkan pengalaman mereka tatkala merampungkan disertasi mereka, serta memberikan kiat serta tip menghadapi “derita” saat berjuang merampungkan studi.

Sehari setelah pulang, dengan semangat besar menyala, kumulai halaman pertama disertasiku. Tertatih-tatih, namun menyenangkan.