Archive for February, 2007

Di tengah kebuntuan menulis prospectus disertasi, saya menyempatkan diri membaca sekilas buku mungil Edward C. Zaragoza, No Longer Servants, But Friends: A Theology of Ordained Ministry (Abingdon Press, 1999). Zaragoza melandaskan pemahamannya perihal karya mereka yang ditahbis dari ucapan Yesus di Yohanes 15:15, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba … tetapi Aku menyebut kamu sahabat …” Ia mengritik konsep pelayanan (servanthood) dan kepemimpinan yang melayani (servant leadership) yang menurutnya tak lagi memadai untuk kehidupan gereja modern. Ada beberapa alasan yang dipakainya. Pertama, model “pelayanan” memunculkan persoalan Kristologis, karena model ini baru bisa bermakna ketika kita “meneladani” Kristus sebagai manusia yang baik; namun, ketika kita melihat perendahan diri Kristus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia, maka tak ada manusia yang mampu meneladaninya. Kedua, model ini terlalu memberi tekanan pada para pelayan dan bukan pada gereja secara keseluruhan. Ketiga, Zaragoza juga memperlihatkan kritik dari teologi feminis atas model pelayanan yang mengandaikan adanya terlebih dahulu “self” yang secara voluntary direndahkan, sedangkan persoalan perempuan justru adalah “self” yang direndahkan secara involuntary.

Sebagai model alternatif, Zaragoza menawarkan model persahabatan sebagai model karya gerejawi masa kini. Selain bahwa model ini memperlihatkan kesetaraan para sahabat, pendasaran teologisnya diperoleh dari pemahaman bahwa manusia diciptakan dalam gambar Allah dan bahwa Allah Tritunggal itu sendiri mencerminkan persahabatan dan mengizinkan manusia untuk menikmati persahabatan di dalam komunitas trinitarian tersebut. Zaragoza lantas mengaplikasikan model persahabatan ini dalam beberapa aspek karya gerejawi, seperti karya pastoral, penahbisan, baptisan, dll.

Tentu saja tulisan Zaragoza pantas dibaca sebagai kritik atas kelatahan memakai term “pelayanan” dalam kehidupan gereja masa kini. Sekalipun buku ini ditulis khusus untuk memberi landasan teologis alternatif bagi mereka yang ditahbis, namun model persahabatan ini tentu juga bermakna bagi warga gereja secara keseluruhan. Justru model ini mampu menjembatani jurang antara “sahabat Kristus” yang profesional (pendeta) dan “sahabat Kristus” lainnya (warga gereja). Catatan lain yang menurut saya menjadi kelemahan buku ini adalah, bahwa sementara model persahabatan yang diajukan Zaragoza menawarkan model relasi I-and-Thou (Buber) yang setara, namun gagal melihat kelebihan model I-for-others yang bisa digali dari model “pelayanan.” Perendahan diri yang lazim dilihat sebagai kebajikan kristiani kini memiliki konotasi yang negatif. Di luar itu semua, buku ini pantas dijadikan bahan diskusi untuk siapa saja yang tertarik untuk mengimajinasikan kehidupan gerejawi pada masa kini secara lebih konstruktif.

Pernahkah membayangkan betapa rentan dan rapuhnya hidup itu? Hari-hari ini kami bergumul dengan berita yang kami peroleh dari Perinatologist (dokter kandungan spesialis untuk high-risk pregnancy), bahwa cervix Sofie ternyata amat-sangat tipis: 1,5 cm. Ketebalan di bawah 3 cm sudah dianggap membahayakan. Dan sekarang: 1,5 cm. Padahal usia janin baru 26 minggu. Wow … mengerikan. Untungnya, uji lab fribronectin negatif, artinya tidak ada tanda-tanda melahirkan selama dua minggu ke depan, most likely. Terpaksa Sofie harus bedrest, tidak boleh mengangkat benda berat, tak boleh melakukan pekerjaan rumah, dan lain-lain.

Untung Debbi meminjamkan film Korea seri, untuk mengusir rasa bosan yang bisa kubayangkan pasti merasuki Sofie. Belum lagi rasa kuatir menghadapi ketidakpastian ini. Dan untung pula kami bisa memesan rantangan sekali seminggu dari Debbi.

Di tengah kegalauan ini, juga sibuknya aku sebagai Mr. Mom, Dio agak kurang terurus. Tadi siang, ketika aku mengganti sprei, Dio bermain gantungan pakaian di living room. Lito bermain komputer. Entah kenapa, perasaanku tak enak, karena Dio tak terdengar suaranya. Kutengok dia, dan kudapati kotak obat Dio yang kami siapkan untuk seminggu ke depan kosong mlompong. Dan Dio asyik membuka-bukanya. Isinya Levothyroxine, hormon pengganti thyroid yang harus dikonsumsi Dio setiap hari. Kucari tablet-tablet obat di lantai dan meja. Tak ada. Hanya ada satu di lantai. Ke mana lima obat lainnya? Kami kalut luar biasa, karena besar kemungkinan Dio memakannya. Obat untuk seminggu masuk ke perut dalam 1-2 menit.

Segera kutelpon suster jaga rumah sakit. Dan kami langsung disarankan untuk membawa Dio ke Emergency Room Newton-Wellesley Hospital. Di sana, Dio diperiksa jantungnya, diberi minuman sehitam tinta (kuduga semacam Norit di Indonesia) dan diambil darahnya. Sayangnya, obat yang (diduga) dimakan Dio bekerja amat lambat. Jadi, Selasa mendatang kami harus membawanya lagi ke rumah sakit untuk diperiksa darahnya. Yang dikuatirkan adalah, jantung berdebar terlalu keras dan implikasi-implikasi lain yang tak perlu. Lalu kami diizinkan pulang.

Sepulang dari rumah sakit, Dio mencret berkali-kali. Sudah diduga, seperti pesan dokter di ER, bahwa obat hitam legam itu bisa membuat mencret. Warna faesesnya pun hitam legam. Sudah empat kali selama sore ini.

Ah, hidup memang rentan. Menjaga dan merawat kehidupan memang tak mudah. Namun tetap saja berharga untuk dilakoni seberat apa pun. Walau upahnya adalah senyuman manis Dio atau tangisan yang menyebalkan namun tetap saja terasa merdu di telinga. Apalagi ketika ia sudah berkata manja: “Daddy!”

Sementara itu Lito sudah makin dewasa. Hampir 11 tahun. Makin matang dan bertanggungjawab. Melihatnya kami merasa dikuatkan, bahwa bukan tak mungkin memelihara dua kehidupan lainnya yang ditaruh Allah di dalam hidup kami (Dio dan calon adiknya). Lebih capai, jelas. Namun, siapa tahu, bakal lebih marak dan menyenangkan.