[sedikit refleksi natal yang disampaikan di perayaan natal icf boston 2006]
Setiap saat natal dirayakan selalu yang muncul adalah kesan hangat, menyenangkan dan menawan. Christmas carols dinyanyikan, hidangan disajikan dan bingkisan Natal membuat semuanya semakin sempurna. Kandang binatang tempat Yesus lahir digambarkan lewat nativity sebagai tempat yang nyaman dan hangat. Budaya kita memang menghendaki sebuah perayaan Natal yang bersih, yang putih dan yang sanitized.
Namun itu bukanlah gambaran aktual Natal perdana. Yang terjadi saat itu bukanlah a snowy Christmas, namun a bloody Christmas. Bukan white Christmas, namun red Christmas. Bukan pula Natal di mana bayi Yesus tak menangis, “no crying he makes†seperti digambarkan dalam nyanyian kita pertama.
Natal yang dibuat sentimental sungguh berbahaya, bukan hanya karena ia dilepaskan dari situasi aktual kelahiran Yesus saat itu, namun juga membuat kita mandul untuk melihat persoalan mati dan hidup di dunia kini dan di sini.
Dalam kenyataannya Yesus lahir dari sepasang suami-isteri yang homeless, tercampakkan dari keluarganya, lahir dalam ketidaknyamanan yang tak terbayangkan, dan dalam situasi sosial-politis yang amat menggelisahkan. Yesus lahir sebagai homeless, kemudian menjadi refugee, dan seluruh hidupnya memuncak pada salib sebagai korban kekerasan politis.
Saya ingat kisah ibu saya yang melahirkan kakak saya pertama di tahun 1965, tempat pada masa mencekam pemberontakan PKI. Ibu saya harus berjalan di malam gelap menuju rumah sakit dan untungnya diangkut oleh truk tentara yang kebetulan lewat. Saya membayangkan Natal Yesus lebih mengerikan dari situasi tersebut.
Dan di puncak drama sosial yang menyedihkan itu Alkitab mencatat sebuah nama: Herodes. Kita banyak bicara soal putting Christ back into Christmas, namun kita tak boleh lupa bicara juga soal putting Herod back into Christmas.
Herodes adalah keturunan Yahudi-Idumea. Dia punya darah Edom. Ia telah membantu orang Romawi untuk menguasai Palestina dan karena itu ia dipercaya menjadi raja Yudea.Ia mendapat julukan Herodes Agung, Bapak Pembangunan Nasional, karena memang banyak kemajuan pembangunan yang dilakukannya. Ia membangun Bait Allah, ideologinya keamanan nasional. Ia bisa sangat murah hati, misalnya, ketika terjadi kesulitan ekonomi pada tahun 25, ia menyumbangkan emasnya untuk membeli gandum bagi masyarakat miskin.
Tetapi Herodes juga kejam dan paranoid. Ia seorang yang suka curiga, sampai-sampai isterinya (Marianne), mertuanya (Alexandra), anak sulungnya (Antipater) dan dua anak lainnya dibunuh, karena kuatir mereka akan merebut tahtanya. Kaisar Agustus pernah berkata, “Lebih baik menjadi babi Herodes daripada menjadi anaknya.†Ketika sakit-sakitan dan tahu akan mati, ia menyingkir ke Yerikho dan dari sana minta agar semua bangsawan ditangkap dan dibunuh ketika ia mati. Semua penduduk harus menangis jika ia mati.
Atas dasar ini kita bisa memahami jika berita yang dibawa oleh orang Majus tentang kelahiran Sang Raja yang baru membuat Herodes blingsatan. Kita menyaksikan betapa naifnya para Majus, betapa tidak bijaksana orang-orang bijaksana itu, datang ke hadapan seorang Raja yang paranoid seperti Herodes, untuk menanyakan Raja Baru yang telah lahir. Jelas seperti membangunkan singa yang sedang tidur. Apa yang terjadi setelah itu: Infanticide. Pembasmian anak-anak berusia 2 th ke bawah.
Dalam bacaan natal kita—matius 2:16-23—saya memberi judul: comites christi. Istilah ini berarti: the companions of Christ, yaitu mereka yang berpartisipasi dalam karya Kristus yang memuncak pada kematian. Istilah ini dipakai dalam tradisi beberapa gereja untuk mengenang martir-martir pertama dalam kekristenan, yang dikenang pada tanggal 26-31 Desember. Mulai dari Stefanus (yang mau menjadi martir dan mati sebagai martir), Yohanes (yang mau menjadi martir sekalipun mati bukan sebagai martir) hingga the Holy Innocents, bayi-bayi yang dibunuh Herodes (mereka yang tak mau mati namun mati sebagai martir). Mereka adalah comites Christi, the companions of Christ.
Kisah pembunuhan bayi-bayi betlehem adalah contoh dari budaya kematian yang terjadi di mana-mana. Apa yang dilakukan Herodes berulang terus di sepanjang sejarah. Anak-anak masih saja terus dibantai dan menjadi korban kekerasan.
- Konflik di Sudan membuat sekitar 20 juta orang mati selama 20 tahun dan sebagian besar anak-anak.
- Di China. Kebijakan “satu anak†membuat banyak aborsi dilakukan.
- John Powell menulis sebuah buku, Abortion: The Silent Holocaust. Buku ini mulai dengan sebuah pemetaan korban perang. Dipakai tanda 1 salib untuk setiap 50.000 orang yang mati. Perang Vietnam dan Perang Korea, masing-masing 1 salib. PD-1: 2,5 salib. PD-2: 11 salib. Tetapi aborsi: 240 salib (s.d. 1981).
- Hitler: jutaan orang Yahudi mati di kamp konsentrasi.
- WTC, 11 September 2001
- Afganistan, persis yang dilakukan Herodes. Untuk mengejar satu orang saja, banyak orang lain tak bersalah ikut mati.
- Konflik di Darfur yang berubah menjadi ethnic cleansing.
Namun budaya kematian bukan melulu peristiwa-peristiwa besar di dunia. Ia terjadi di mana-mana, di sekitar kita. Temmy bercerita tentang dua anak asal Afrika yang ditampung di Walker Centre karena diabaikan orangtuanya. Kita melintasi homeless di mana-mana, yang berjuang hidup mengatasi cuaca winter yang dingin. Singkatnya, budaya kematian adalah semua yang membuat manusia hidup menjauh dari martabat kemanusiaan.
Natal di tengah budaya kematian mengundang kita untuk menjadi comites Christi, sahabat Kristus, yang memasuki budaya kematian itu, menjadi dan membawa terang sekecil apa pun, semampu kita, sekalipun itu berarti harus meleleh hingga tetes terakhir. Menjadi comites Christi berawal dari spirit seperti yg muncul di setiap email Rowan: “Every moment that a poor person dies of hunger somewhere in the world, I die with him -” Daniel Amarilio