Sore ini perhatianku tertancap pada sebuah pohon kerontang di antara belasan pohon senasib di sebuah taman mungil di daerah Brighton. Tanpa daun sehelai pun. Sementara tampak tanah di bawahnya, tertutup gunungan daun kering yang tak lagi punya kesegaran.
Samar-samar kulihat di tengah ranting-ranting kering itu, seonggok sarang burung. Tak kudengar cericit burung sedikit pun di taman itu. Tampaknya semua burung telah migrasi, entah ke mana. Dan sarang itu pun terbengkalai. Semoga tanpa sebutir telur pun, apalagi anak burung yang belum mampu terbang. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, ke mana burung-burung itu berteduh di musim dingin. Kuperhatikan termometer di mobil. 34 derajat F. Atau sekitar 1 derajat C. Ke mana mereka? Apa yang bakal terjadi dengan sarang yang dibangun begitu lama itu? Apakah anak burung itu tidak akan kedinginan? Salju akan segera turun dalam beberapa minggu.
Di dalam kerontangnya ranting pohon itu, baru tampak jelas tapak kemungkinan memikirkan nasib “sang liyan”. Sesuatu yang absen di tengah rimbunnya daun-daun di pepohonan itu.
Agaknya, memang di tengah nestapa bersama, kita dimungkinan untuk lebih gamblang melihat persoalan sang liyan. Orang yang mungkin tak kita hiraukan ketika berpapasan dengannya di keramaian normal sesehari. Agaknya, peradaban mana pun memang selalu membutuhkan secuil imajinasi yang diasuh empati dan solidaritas, untuk membayangkan hidup sesama. Apa yang terjadi pada anak kecil itu? Kenapa harus menyeberang jalan sendirian. Di mana orangtuanya? Apa yang ada di benak nenek tua yang berjalan sambil menundukkan kepala itu? Kenapa pria muda berdasi itu menghela nafas berulang kali?
Mungkin musim gugur tak selamanya menyebalkan.