Archive for November, 2006

pic8.jpgSore ini perhatianku tertancap pada sebuah pohon kerontang di antara belasan pohon senasib di sebuah taman mungil di daerah Brighton. Tanpa daun sehelai pun. Sementara tampak tanah di bawahnya, tertutup gunungan daun kering yang tak lagi punya kesegaran.

Samar-samar kulihat di tengah ranting-ranting kering itu, seonggok sarang burung. Tak kudengar cericit burung sedikit pun di taman itu. Tampaknya semua burung telah migrasi, entah ke mana. Dan sarang itu pun terbengkalai. Semoga tanpa sebutir telur pun, apalagi anak burung yang belum mampu terbang. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, ke mana burung-burung itu berteduh di musim dingin. Kuperhatikan termometer di mobil. 34 derajat F. Atau sekitar 1 derajat C. Ke mana mereka? Apa yang bakal terjadi dengan sarang yang dibangun begitu lama itu? Apakah anak burung itu tidak akan kedinginan? Salju akan segera turun dalam beberapa minggu.

Di dalam kerontangnya ranting pohon itu, baru tampak jelas tapak kemungkinan memikirkan nasib “sang liyan”. Sesuatu yang absen di tengah rimbunnya daun-daun di pepohonan itu.

Agaknya, memang di tengah nestapa bersama, kita dimungkinan untuk lebih gamblang melihat persoalan sang liyan. Orang yang mungkin tak kita hiraukan ketika berpapasan dengannya di keramaian normal sesehari. Agaknya, peradaban mana pun memang selalu membutuhkan secuil imajinasi yang diasuh empati dan solidaritas, untuk membayangkan hidup sesama. Apa yang terjadi pada anak kecil itu? Kenapa harus menyeberang jalan sendirian. Di mana orangtuanya? Apa yang ada di benak nenek tua yang berjalan sambil menundukkan kepala itu? Kenapa pria muda berdasi itu menghela nafas berulang kali?

Mungkin musim gugur tak selamanya menyebalkan.

Pagi ini dosen yang mengampu matakuliah Christian Theology II, di mana aku mbabu, memberi kuliah perihal Christian Life. Di salah satu bagian Kirk Wegter-McNelly, itu nama dosen tersebut, merambah seluruh tradisi spiritualitas kristiani, dan merangkum dari semuanya tujuh imaji kehidupan kristiani yang kerap dianut orang Kristen. Ada baiknya kubagikan di sini. Hanya supaya kita maklum bahwa gambaran ideal kita tentang bagaimana seorang Kristen hidup, bukanlah satu-satunya atau bukanlah yang terbaik yang patut dikejar. Ada banyak orang Kristen yang memiliki imaji yang berbeda dengan kita. ketujuh imaji tersebut:

  1. Mengalami Allah sebagai misteri
  2. Melatih kebajikan kristiani
  3. Terlibat dalam pertarungan rohani
  4. Melakoni hidup sebagai ziarah atau kembara
  5. Memiliki hubungan pribadi dengan Yesus sebagai Tuhan
  6. Mengenal pikiran dan perasaan Kristus
  7. Bersaksi sebagai sebuah alternatif bagi budaya dominan

Setiap imaji tentu memiliki implikasi masing-masing dalam berbagai dimensi. Misalnya, mereka yang menganut imaji ketujuh (”bersaksi sebagai sebuah alternatif bagi budaya dominan”) tentulah memiliki tipe hubungan Injil-Budaya yang konfrontatif, tinimbang akomodatif.

Membuat tipologi macam ini menarik. Dan Kirk paling suka memang melakukannya. Saya akan coba bagikan beberapa tipologi yang dia pernah “ciptakan” kali lain.

plannedparenthood.jpgPagi ini dari balik jendela kereta api kulihat (untuk kesekian kalinya) 4 atau 5 orang lanjut usia berdiri di depan klinik Planned Parenthood, sebuah klinik aborsi terkenal di seantero Amerika. Ada yang berlutut berdoa, ada yang memegang poster yang samar kulihat bicara soal penolakan aborsi, ada pula yang membawa brosur dan membagikannya ke pejalan kaki. Di depan pintu masuk terdapat garis kuning melingkar, batas di mana para pengunjuk rasa itu boleh berdiri atau melakukan apa pun yang mereka mau. Sudah hampir dipastikan orang-orang tua itu umat Katolik. Beberapa kali kulintasi mereka ketika hendak belanja di Shaw’s Supermarket yang persis berada di samping klinik itu. pernah kulihat betapa khusyuk seorang ibu tua bertelut dengan tangan menggenggam rosario dan mulut meramu doa. Entah apa yang didoakannya? Doa kutukan bagi mereka yang mengaborsi? Doa bagi janin-janin yang kadung teraborsi agar terbebas dari limbo?

Bagiku, yang menarik adalah ini. Ketekunan mereka menghampiri secara konfrontatif (con-front) klinik aborsi tersebut menjadi contoh sebuah kritik sosial tanpa kekerasan. Mungkin saja dugaanku keliru. Mungkin saja mereka akan sampai pada sebuah titik keputusasaan melihat makin menggelembungnya praktik aborsi dan memutuskan untuk tak lagi menggenggam rosario atau poster protes dan menggantinya dengan bom, seperti yang dilakukan oleh Eric Robert Rudolph, seorang kristen kanan di tahun 1997-1998. Menjaga visi tanpa kehilangan welas-asih memang tantangan terbesar seorang pemrotes sosial.

Entah kenapa harus kutulis soal ini. Mungkin karena isteriku tengah hamil lagi. Unplanned Parenthood!

Hidup itu memang kadang porak-poranda. Di tengah keletihan yang amat-sangat mengurus keluarga, setelah Sofie hamil lagi, ditambah tuntutan persiapan ujian komprehensif yang gila, aku kehilangan notebook di T (kereta api lokal di Boston). Penyebabnya simpel. Letih plus terlalu terfokus pada percakapan telpon genggam. Lantas, begitu saja kutinggalkan notebook di atas kereta api. Padahal semua dokumen, semua catatan, semua gambar … seluruh proyek hidup, ada di dalamnya. Semoga yang menemukannya punya sedikit akal untuk menemukan cara menghubungiku dan mengembalikannya. Jika tidak, semoga ia bisa memanfaatkannya. Puih … hidup terkadang menyebalkan.