Musim gugur ini sebuah kesibukan dijalani–di tengah terengah-engahnya mempersiapkan ujian komprehensif dan menulis prospektus disertasi–yaitu, bekerja sebagai asisten dosen mata kuliah Theology II: Doctrines. Salah satu rutinitas yang harus dilakoni adalah memeriksa refleksi mingguan dari mahasiswa. Minggu lalu, sebuah puisi dari salah seorang mahasiswa menancap di benak, tanpa bisa dihindari. Tema yang disajikannya perihal pewahyuan. Namanya: Anthony Zuba. Dengan izinnya, saya kutipkan puisi yang digubahnya …
Revelation spoils impatient fools;
Happiness subsists in grace obeyed,
Though its face defies reflecting pools.
If the call is not what you would claim,
Don’t despair that you don’t know the tune.
Even so, the song remains the same,
Ready for the hearer to renew.
Puisi ini terus terang menggangguku; menempatkanku pada posisi si pendengar yang telanjang menerima derasnya pewahyuan sang ilahi. Terkadang bising, namun lebih sering sepi suara. Dan nada yang diperdengarkan toh tetaplah sama, seperti ditulis Anthony: “… the song remains the same / Ready for the hearer to renew.”