Archive for October, 2006

JaninTuhan memang suka bercanda. Dan kadang kebangetan. Sofie hamil lagi. IUD yang konon 99.2-99.9% efektif mencegah kehamilan, tetap saja tembus.

Yang bener aja Tuhan … Dio masih belum genap dua tahun. Bulan ini kami musti pindah ke apartment yang lebih mungil. Juga aku harus mempersiapkan diri untuk ujian komprehensif dan sebagainya, dan seterusnya, dan selanjutnya.

Saya punya definisi baru tentang fundamentalisme. Ia adalah “sebuah penolakan atas keindahan sang liyan.” Definisi ini saya peroleh dengan sederhana saja, yaini lewat pergaulan maya di beberapa milis. Sikap-sikap fundamentalistik amat kuat tercermin dalam tulisan banyak orang. Intinya satu: hidup, pikiran, keyakinan orang lain dipandang bukan lagi sebagai sesuatu yang indah dan mempesona, namun sesuatu yang trivial, atau malah mengancam, dan karenanya perlu dihancurkan. Bila sesama mampu dipandang dengan pesona, maka selalu akan muncul rasa enggan untuk melukai mereka. Tatkala bersentuhan dengan sesama, mereka menjadi sebuah entitas yang penuh kedalaman dan sacred. Lantas, selalu muncul apa yg oleh Buber disebut ontology of the between … ruang antara kita dan sesama menjadi ruang-kudus, yang memunculkan rasa tak tega untuk menodai dan melangkahinya. Maka, sikap fundamentalis amatlah kerontang. Kering, tak menyegarkan dan membuat tak kerasan mereka yang ada di sekitarnya. Karena itu, fundamentalisme tak pernah tidak berbahaya.

Berikut kutipan dari Henri Nouwen, yang kuperoleh berkat langganan “Daily Meditation” dari situs Nouwen.

A Place of Vulnerability and Trust

When we gather around the table and eat from the same loaf
and drink from the same cup, we are most vulnerable to one
another. We cannot have a meal together in peace with guns
hanging over our shoulders and pistols attached to our
belts. When we break bread together we leave our arms -
whether they are physical or mental - at the door and enter
into a place of mutual vulnerability and trust.

The beauty of the Eucharist is precisely that it is the
place where a vulnerable God invites vulnerable people to
come together in a peaceful meal. When we break bread and
give it to each other, fear vanishes and God becomes very
close.

“[the Eucharist] is the place where a vulnerable God invites vulnerable people to
come together in a peaceful meal.” Isn’t it so beautiful …?

litodio.jpgdio1.jpg

two best pictures of my two best sons: lito and dio.

Musim gugur ini sebuah kesibukan dijalani–di tengah terengah-engahnya mempersiapkan ujian komprehensif dan menulis prospektus disertasi–yaitu, bekerja sebagai asisten dosen mata kuliah Theology II: Doctrines. Salah satu rutinitas yang harus dilakoni adalah memeriksa refleksi mingguan dari mahasiswa. Minggu lalu, sebuah puisi dari salah seorang mahasiswa menancap di benak, tanpa bisa dihindari. Tema yang disajikannya perihal pewahyuan. Namanya: Anthony Zuba. Dengan izinnya, saya kutipkan puisi yang digubahnya …

Revelation spoils impatient fools;
Happiness subsists in grace obeyed,
Though its face defies reflecting pools.
If the call is not what you would claim,
Don’t despair that you don’t know the tune.
Even so, the song remains the same,
Ready for the hearer to renew.

Puisi ini terus terang menggangguku; menempatkanku pada posisi si pendengar yang telanjang menerima derasnya pewahyuan sang ilahi. Terkadang bising, namun lebih sering sepi suara. Dan nada yang diperdengarkan toh tetaplah sama, seperti ditulis Anthony: “… the song remains the same / Ready for the hearer to renew.”

Hidup ini sebuah mujizat, yang berlangsung entah dalam keterpanaan atau pun tanpa tertengarai. Yang dibutuhkannya sesungguhnya hanyalah sebuah kepekaan, untuk mengiyakan bahwa mujizat tengah berlangsung … justru di saat kelaziman berdetak tanpa greget. Lebih-kurang kesadaran macam itu yang ingin dituturkan oleh Augustine berikut ini:

We take for granted the slow miracle whereby water in the irrigation of a vineyard becomes wine. It is only when Christ turns water into wine, in a quick motion, as it were, that we stand amazed. {St. Augustine}