Archive for the Kotbah Category


Warning: copy() [function.copy]: Filename cannot be empty in /home4/icfbosto/public_html/joas/wp-content/plugins/mytube/mytube.php on line 220

Mazmur 8

Mazmur 8 ini diawali dan diakhiri dengan puji-pujian yang sama: Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi.” Kita terlalu biasa mendengar orang berkata, “demi kemuliaan Allah.” Doa-doa kita juga kerap latah memakai kalimat, “…demi kemuliaan Allah.” Apa artinya saudara-saudara? Apa artinya “demi kemuliaan Allah?”

Izinkan saya mengajukan dua kritik terhadap kelatahan kita itu.

  1. Kita terlalu biasa memakai kalimat “demi kemuliaan Tuhan” dalam doa, nyanyian dan ibadah kita. Kita membatasi arti “kemuliaan Tuhan” hanya dalam ibadah-ibadah kita. Seolah-olah hanya dengan doa, nyanyian dan ibadah kita bisa memuliakan Tuhan. Soalnya justru pada kehidupan setiap hari. Apakah masih ada artinya “kemuliaan Tuhan” ketika ibu memasak, anak bersekolah dan bapak bekerja?
  2. Kita sering punya salah konsep bahwa kemuliaan Tuhan berarti bahwa Tuhan suka dengan puji-pujian kita. Hati-hati, saudara, jangan-jangan, tanpa sadar, kita memandang Tuhan sebagai Allah yang haus pujian, butuh pujian, ingin dipuji. Seorang berkata, konsep kemuliaan Allah dalam kekristenan sudah menjadikan Allah sebagai Tuhan yang egosentris. Seolah-olah Tuhan memakai manusia untuk memuliakan diriNya. Allah tak butuh itu.

Saya akan pakai ilustrasi ini.

Pak Anton seorang yang kaya dan baik hati. Ia melihat Lusi tidak memiliki biaya untuk meneruskan kuliah. Lalu Pak Anton membiayainya. Setelah selesai, Lusi bekerja dan sukses. Apakah Lusi “wajib” dan “harus” memuji Pak Anton? Ya! Tapi apakah itu berarti Pak Anton membantu Lusi karena ingin dipuji? Tentu saja tidak. Itu kesimpulan yang tidak logis, salah dari segi hukum logika.

Allah itu baik dan kita memuliakan Tuhan karena kebaikanNya. Tapi tidak berarti Allah baik agar kita memuliakan Dia. Itu salah besar. Allah sungguh sempurna, hingga tak perlu segala pujian kita. Tanpa puji-pujian kita, Allah pada hakikatNya memang mulia.

Kalau begitu apa arti paling hakiki dari kalimat “demi kemuliaan Allah?” Mari kita lihat Mazmur 8 ini. Kalimat “betapa mulianya namaMu di seluruh bumi” ada pada ayat 2 dan 10. Di antaranya ada 7 ayat yang berbicara tentang siapa manusia sebenarnya. Pada intinya ada dua bagian penting.

Bagian 1, ayat 3-5, menceritakan keberadaan manusia yang demikian kecil dan hina. Dibanding semesta yang begitu luas, manusia sungguh tak ada artinya. Saya sering memikirkan bahwa semesta ini dibanding galaksi bimasakti kita seperti ruangan gereja ini dibanding sebuah titik kecil. Padahal, galaksi bima sakti kita dibanding dengan bumi kita ini sama seperti ruangan ini dibanding sebuah titik kecil. Padahal bumi kita ini dibanding Joas sama seperti ruangan ini dibanding sebuah titik kecil jadi, semesta ini, dibandingkan manusia, maka manusia ini titiknya titiknya titiknya semesta. Sungguh-sungguh kecil dan hina.
Jadi, ayat 3-5 ini ingin mengajar manusia untuk tahu diri.
Tahu dong kalau kita ini lemah, dibanding semua semesta ini, apalagi dinading pencipta semesta ini.

Bagian 2, yaitu ayat 6-9, berbicara lain. Meskipun manusia kecil dan hina, Tuhan mengingatnya dan mengasihinya. Jadi, kita diajak untuk punya harga diri. Tahu dong, kita ini, meskipun hina, sungguh dihargai Allah.

Perpaduan antara sikap tahu diri dan harga diri inilah yang membuat manusia bisa melihat diri sebagai gambar dan rupa Allah, citra Allah. Kalau cuma tahu diri (tahu kita ini lemah), tanpa diimbangi dengan sikap harga diri (tahu kita ini dihargai Allah, maka manusia akan selalu minder, tak bisa menghargai hidup ini.
Sebaliknya sikap harga diri tanpa diimbangi sikap tahu diri, hanya membuat manusia sombong dan congkak. Dan karena itu bisa meremehkan sesama.

Karena itu hati-hati dengan sikap kita terhadap sesama. Ketika Anda menghina sesama Anda, melecehkan mereka, merugikan mereka. Anda sedang berurusan dengan Allah, Pencipta sesama kita. Kita sedang merendahkan kemuliaan Allah.

Ketika Anda hidup serampangan, merusak kehidupan Anda, merendahkan martabat Anda. Anda sedang berurusan dengan Allah. Kita sedang merendahkan kemuliaan Allah.

Dengan kata lain, perpaduan sikap tahu diri dan bangga diri ini mengajar manusia untuk melihat diri sebagai manusia yang utuh dan benar-benar manusiawi. Apa artinya kalau dalam Kejadian 2 dikatakan manusia itu gambar Allah? Artinya, manusia sungguh berarti kalau Ia hidup secara manusiawi. Dan itulah kemuliaan Allah.

Jadi, Kita punya dua kalimat sekarang. Satu: kemuliaan Tuhan. Dua: manusia yang manusiawi. Apa hubungannya? Saya ingin mengutip ucapa Ireneus pada abad pertama. Ia berkata: Gloria Dei, Homo vivens. Artinya: Allah dimuliakan ketika manusia hidup sebagai manusia. Maka kebalikannya, jika manusia tidak hidup sebagai manusia yang manusiawi, hidup sebagai gambar Allah, maka ia tidak memuliakan Allah.

Nah, sekarang kita melihat arti paling mendasar dari “kemuliaan Allah.” Jika kita tidak berusaha untuk hidup sebagai manusia sejati, maka kita tidak memuliakan Allah. Atau, jika kita membuat sesama kita hidup tidak sebagai manusia, atau, kita membuat kehidupan sesama tidak manusiawi, kita tidak memuliakan Allah.

Allah tak butuh dimuliakan. Tapi, Allah setuju untuk dimuliakan, hanya jika mereka yang memuliakan Tuhan berani hidup manusiawi dan membuat sesamanya bisa manusiawi hidupnya.

Hati-hati dengan lagu-lagu pujian kita, yang penuh dengan kalimat “kemuliaan Allah.” NKB 6, 7, 16. KJ 2, 4, 5, 6, 7, 13 dsb. Kita akan lelah mendaftar lagu-lagu yang mengajak kita memuliakan Allah. Lagu-lagu itu bagus dan kita diminta menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Namun lagu itu bisa juga menjadi sarana kita untuk meremehkan kemuliaan Allah, ketika, pada saat yang sama, kita memperlakukan PRT kita semena-mena, kita merendahkan isteri dan anak kita. Atau kita sendiri hidup tidak sebagai manusia yang sebenarnya.

Gloria Dei, homo vivens. Kemuliaan Allah hanya bisa diakui ketika kita memperjuangkan kehidupan manusia agar manusiawi.


Warning: copy() [function.copy]: Filename cannot be empty in /home4/icfbosto/public_html/joas/wp-content/plugins/mytube/mytube.php on line 220

Yohanes 15:1-8

SATU

1.    Kita hidup dalam dunia yang bergelut antara produktivitas di satu sisi dan kemandulan di sisi lain.

Produktivisme

2.    Produktivitas membuat manusia dinilai dari apa yang dihasilkannya. Karyawan yang tak produktif dianggap merugikan perusahaan. Anak yang sudah dewasa namun tak produktif dianggap menjadi beban bagi keluarga. Produktivitas kemudian menjadi ukuran keberhasilan hidup. Dan untuk itu kita berusaha sekeras tenaga untuk menghasilkan sesuatu, semakin banyak dan semakin banyak lagi. Produktivitas adalah bukti hasil kerja kita; bukti kemampuan manusia.

“Ini Bapak Anu, direktur perusahaan A.”
“Ini Ibu Anu, penulis terkenal.”
“Ini anak keluarga Anu. Dia juara kelas!”

Intinya, produktivisme - paham yang menempatkan produk sebagai mahkota kehidupan - sesungguhnya menghasilkan devaluasi kemanusiaan. Manusia hanya dinilai dari apa yang dihasilkannya. Manusia kemudian sekedar menjadi mesin produksi. Ini pernah dan masih terus terjadi sampai sekarang. Para buruh dikenal bukan lagi dengan nama mereka, namun dari nomor yang mereka kenakan. Kemakmuran sebuah negara diukur dari seberapa jauh penduduk usia produktif bisa sungguh-sungguh memberi hasil.

Jadi ada dua hal yang menjadi inti dari produktivisme.

  • Orang dinilai dari apa yang dihasilkannya, bukan dari apa adanya dia.
  • Orang berusaha produktif dengan kekuatannya sendiri.

Kemandulan

3.    Di sisi lain, akibat budaya produktivisme ini, kemandulan dianggap sebagai momok yang menjijikkan. Anak-anak dipandang belum bernilai karena belum produktif. Mereka, anak-anak itu, dirawat hanya dengan harapan, esok jika sudah dewasa bisa memberi hasil buat orangtua. Maka, semakin banyak anak, semakin terjamin hidup masa depan. Anak menjadi investasi.

Sedang yang paling dicampakkan adalah orangtua dan orang cacat. Mereka semakin tidak dipedulikan karena tidak menghasilkan, dan malah dianggap beban yang hanya menyusahkan saja. Perempuan dianggap membawa sial jika tidak bisa memproduksi anak bagi sang suami. Maka, di banyak masyarakat, suami berhak menceraikan isteri yang tak bisa memberi anak.

DUA

4.    Saudara-saudara yang terkasih, firman Tuhan kita pagi ini berbicara tentang kesuburan. Kesuburan yang sejati mengatasi kemandulan sekaligus mengatasi produktivisme.

Kesuburan Menolak Kemandulan

5.    Pada ayat 2 dikatakan, “Setiap ranting yang tidak berbuah, dipotong-Nya.” Kristus ingin agar hidup kita tidak mandul, namun subur, berbuah. Hal ini ditegaskan pada ayat 6, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”

Hidup subur berarti hidup berarti bagi orang lain. Mengapa? karena kita diciptakan untuk suatu maksud, yaitu memuliakan Allah. Karena itu, setelah Yesus memakai gambaran pohon anggur ini, Ia berkata pada ayat 8, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak.”

Seseorang bisa menjadi “orang Kristen yang mandul” ketika ia tidak berbuah, tidak mau memberi dan hanya mau menerima firman Tuhan. Itu sebabnya Yesus mengkritik para murid pada ayat 3, “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” Dalam acara Malam Perenungan AIDS di gereja kita minggu lalu, muncul satu adegan tentang seorang pendeta, yang dengan toganya yang tak pernah kotor, memakan Alkitab, untuk menggambarkan orang kristen yang hanya doyan melahap firman Tuhan, untuk membuat dirinya bersih dan suci, gemuk dengan firman Tuhan. Sampai di sini tidak masalah. Setiap orang Kristen memang perlu memiliki kerinduan dan haus untuk menerima firman Tuhan. Tapi Yesus mengritik orang-orang semacam ini, karena tidak mau keluar dari “ruang makan firman Tuhan” dan hidup memberi buah bagi sesama.

Kesuburan Menolak Produktivisme

6.    Tetapi pada saat yang sama kesuburan sejati menolak produktivisme. Ayat 4 menyatakan, “…Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Ranting tidak bisa berbuah dari dirinya sendiri. Dan ini yang secara tepat ingin dilakukan banyak orang dalam budaya produktivitas. Dengan kekuatan sendiri menghasilkan produk. Karena itu menjadi produktif tidak sama dan bahkan berlawanan dengan hidup subur-berbuah.

Kesuburan: Lemah, namun Berbuah dari Tuhan

7.    Tetapi kalau kita perhatikan, bagaimana sebenarnya konsep firman Tuhan mengenai kesuburan? Ada satu konsep kunci yang diulang-ulang dalam bacaan kita ini. Yaitu: “Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalammu.” Ayat 4,5,7. Dengan tinggal di dalam Kristus dan kristus di dalam kita, kita berbuah. Di satu sisi, kita tidak mandul, karena kita berbuah. Di sisi lain, kita atidak terjebak dalam budaya produktivisme, karena buah yang kita hasilkan, bukan karena usaha kita, tapi karena Kristus yang memberi buah.

Galatia 5 memberi gambaran lain tentang hal ini … buah Roh: buah yang dihasilkan dari Roh Kudus. Kita memang perlu berusaha, namun  jika kita berbuah, itu bukan karena hasil langsung usaha kita, namun karena Allah bekerja melalui kita.

Baptis-Sidi dan Pekan PI

8.    Hari ini ada dua momen penting bagi jemaat ini. Yang pertama adalah Baptis-Sidi bagi sebagian anak-anak dan saudara kita. Biarlah firman Tuhan ini memberi bekal dan keteguhan hati bagi saudara-saudara yang akan menerima pelayanan baptis dan sidi, bahwa Allah telah dipilih untuk menjadi anak Tuhan. Tetaplah tinggal di dalam Kristus dan biarlah Kristus tinggal di dalam hidupmu, bersahabatlah terus dengan Kristus, maka hidupmu akan berbuah.

9.    Yang kedua, kita minggu ini memasuki Pekan PI. Mengapa kita harus melakukan PI? Karena kita tak mau mandul. Kita mau berbuah. Tapi kita sungguh-sungguh harus mawas. PI bukan mesin yang memproduksi orang Kristen baru. Hidup berbuah tidak sama dengan mengkristenkan. Ada sebuah STT yang saya tahu di Jawa Tengah. Para mahasiswanya jika mau naik tingkat atau lulus harus memenuhi target menjadi sekian orang menjadi Kristen. Jika target tidak dipenuhi maka, mereka tidak bisa lulus. Alhasil, saya pernah bertemu dengan  salah satu mahasiswa yang bahkan “merendahkan” makna Injil dengan menawarkan iming-iming tertentu pada orang-orang tertentu agar mereka mau jadi Kristen. PI, adalah menawarkan Injil bagi sesama. Dan biarlah Roh Kudus sendiri yang bekerja dalam hati orang itu.


Warning: copy() [function.copy]: Filename cannot be empty in /home4/icfbosto/public_html/joas/wp-content/plugins/mytube/mytube.php on line 220

Kotbah Paskah Subuh 2002
Yohanes 20:11-18

SATU

Tema Masa Paskah kita adalah “Perjumpaan dengan Yesus.” Selama enam minggu kita melihat bagaimana Yesus berjumpa -atau tepatnya menjumpai- banyak orang di sekeliling-Nya. Perjumpaan dengan Nikodemus, Perempuan Samaria, Maria-Marta, Kayafas, Orang yang terlahir buta serta Yakobus-Yohanes.

Apa yang sama dari semua perjumpaan itu, yang pertama, adalah bahwa Yesus menjumpai mereka secara pribadi. Inisiatif mulai dari Allah dan mengundang jawaban manusia. Inilah intipati iman kristen. Manusia tidak mungkin menjumpai Allah kecuali jika Allah yang pertama-tama menjumpai manusia. Perjumpaan itu bukan seperti perjumpaan di tempat-tempat publik, di “meeting point” di mana dua orang berjanji bertemu. Tidak. Perjumpaan dengan Yesus adalah perjumpaan yang asimetris, tidak seimbang, karena inisiatif selalu datang dari satu pihak: Yesus. Baru kemudian muncul respon dari manusia.

Yesus yang sama menjumpai Anda. Jika Anda selama ini bergumul mencari Allah, percayalah, kita tidak akan bertemu dengan-Nya. Kecuali, jika Allah dalam Yesus yang pertama-tama menjumpai kita. Kesalahpahaman kita selama ini adalah menyangka bahwa Allah atau Yesus belum menjumpai kita. Ini keliru. Di atas salib itulah Allah menjumpai semua manusia, bersama-sama sekaligus secara personal. Hanya saja, kita mugkin terlalu sibuk dengan diri kita, terlalu sibuk dengan tangisan kita, seperti yang terjadi dalam diri Maria. Atau juga, kita tidak menyangka bahwa Yesus menjumpai kita dengan cara yang lain. Kita membuat patokan bahwa jika Allah menjumpai kita, tentu harus melalui cara-cara yang ajaib, supranatural dan menghebohkan. Ia menjumpai kita secara unik dan kadang tak terduga. Bahkan, di sebuah kisah Injil, dikatakan bagaimana Ia menjumpai kita melalui sesama kita, yang lapar, haus, telanjang dan terpenjara. Dan kita tidak mengenali-Nya.

Yang kedua, Yesus selalu menjumpai manusia dalam keunikannya masing-masing. Yesus menjumpai setiap orang dalam kelebihannya dan dalam kelemahannya. Ia berbicara secara teologis dengan Nikodemus, karena Nikodemus seorang teolog. Ia menghargai Maria dan Marta yang berbeda karakternya. Yang satu pendengar Firman, yang lain pelaku firman. Ia menjumpai seorang buta dalam persoalan yang dipikul selama belasan tahun. Ia menjumpai Anda dan saya dalam keunikan kita masing-masing. Menjumpai Anda dan saya dengan menyebut nama kita.

Yang ketiga, Yesus yang menjumpai kita mengundang respon kita. Apapun respon itu. Nikodemus, orang yang buta sejak lahirnya, Maria Magdalena meresponnya dengan positif. Kayafas sebaliknya, mereposnnya dengan negatif. Perjumpaan dengan Yesus adalah moment of truth, karena kita tidak bisa bersikap abstain. Hanya bisa kita memilih entah ya entah tidak.

Dan yang terakhir, keempat, perjumpaan dengan Yesus melibatkan sebuah proses tolehan, berpaling, berbalik. Dari fokus pada hal-hal lain menuju fokus pada Dia. Dan inilah yang secara tersurat muncul dalam kisah penampakan Yesus ada Maria Magdalena. Dan untuk itu mari kita memasuki pada kisah ini.

DUA

Pagi ini, teks Paskah kita berbicara tentang Maria Magdalena yang menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus. Kita bisa mendekati teks ini dengan meihat isi hati Maria melalui bahasa tubuhnya … melalui ekspresi fisiknya.

Tahukah anda betapa pentingnya mengenal isi hati seseorang dari bahasa tubuhnya. Ini bentuk komunikasi paling universal dan paling kuno. Saya dan bekas pacar saya juga punya kisah tentang bahasa tubuh ini. Ketika dulu kami pacaran, setahun kemudia saya harus pindah ke Jakarta untuk studi. Kali pertama saya berkunjung ke Yogyakarta, setelah beberapa bulan tidak bertemu, merupakan saat-saat yang mendebarkan hati. Saya sudah membayangkan bagaimana sambutannya. Saya bayangkan seperti di film-film roman. Dia akan tampak antusias, berbunga-bunga, mungkin dengan cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri). Pokoknya heboh. Hari itu ketika saya berkunjung … eh ternyata biasa saja tuh. Senyum tapi tidak seheboh yang saya bayangkan. Padahal itu hari ulang tahunnya. Saya sengaja mencoba romantis, membawa sekuntum bunga anggrek. Yah, ternyata sambutannya biasa-biasa saja. Kecewa. Oh, ya, bekas pacar saya ini sekarang sudah jadi isteri saya. Dan setelah menikah ternyata lain. Luar biasa … lebih dahsyat dari yang saya bayangkan.
Ternyata memang ada orang yang ekspresif, menunjukkan isi hatinya secara blak-blakan dan ada yang sebaliknya, seperti tanpa ekspresi walaupun hatinya meledak-ledak.

TIGA

Kisah ini dimulai dengan kata “tetapi …” Mengapa tetapi? Ayat sebelumnya (ay. 8-10) dikatakan bahwa dua murid melihat kubur Yesus yang sudah kosong dan mereka percaya. Bukan percaya bahwa Yesus telah bangkit, tapi percaya bahwa memang jasad Yesus sudah diambil orang. Mereka sedih? Tentu. Tapi mereka juga rasional. Tak ada yang bisa dilakukan lagi. Yang terjadi terjadilah. Entah kubur Yesus masih utuh atau jasad Yesus sudah diambil orang, tidak berarti banyak. Yesus masih mati. Maka mereka pulang ke rumah. Mau apa lagi?

Tetapi … Maria berbeda. Dia tidak pulang ke rumah. Lihat bahasa tubuhnya. Ia “berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu.” Saya tidak mampu melukiskan isi hati Maria. Campuran antara kesedihan dan karena itu menangis, ketidakrelaan karena raibnya tubuh Yesus, rasa tidak percaya, sampai ia mencoba menjenguk dan melihat sekali lagi. Namun, apapun perasaan Maria, saya yakin pada lapis terdalam … hatinya penuh dengan cinta. Cinta yang menyakitkan, cinta yang melukai. Hati dan pikirannya dipenuhi oleh sosok Yesus. Yesus yang mati!
Itu sebabnya ketika Yesus menampakkan diri … Maria tidak mengenalinya. Amat menarik di sini ada bahasa tubuh yang kedua: menoleh atau berpaling. Dua kali dikatakan Maria menoleh atau berpaling. Yang pertama, dalam keadaan menangis sedih (ay. 14) Maria menoleh. Tangisannya membuat dia tidak sadar bahwa yang dilihatnya adalah Yesus. Disangkanya orang itu adalah penunggu taman. Ini tolehan yang pertama. Tolehan ke arah kubur, ke arah kematian. Tolehan kasih yang terluka. Kalaupun dalam tolehan pertama ini harapan, namun harapan yang sempit, hanya harapan bahwa ia bisa menemukan Yesus yang mati.

Ini tolehan yang paling banyak muncul di dunia, di dalam kehidupan begitu banyak orang. Menoleh, mencari Allah yang benar, namun tidak mengenali-Nya. Tolehan yang tidak mengubah kehidupan secara radikal, karena fokus hidup masih pada tangisan, keputusasaan dan kesedihan dan nasib diri sendiri. Saya menyebutnya “Tolehan Salib.”

Tolehan jenis ini ada manfaatnya juga, ketika kita juga melihat kesedihan dan keputusasaan orang lain. “Ikut menangis bersama dengan orang yang menangis.” Solidaritas semacam ini mutlak dibutuhkan oleh orang-orang yang terlibat dalam penderitaan orang lain, membela hak orang lain, berjuang demi martabat sesama. Namun solidaritas ini saja tidak banyak berguna, karena tidak memberi pengharapan.

Akan tetapi kemudian dicatat tolehan yang kedua, ayat 16. Dan tolehan kedua ini muncul karena Yesus yang bangkit itu menyapa Maria dengan nama-Nya. Maria, Miriam, Maryam atau Mara berarti kepahitan dan penderitaan. Hidupnya memang dipenuhi kepahitan. Sebelum berjumpa dengan Yesus, ia terikat oleh tujuh roh jahat. Setelah lebih-kurang dua tahun masa kebahagiaan bersama Yesus, Rabi yang membebaskannya kini mati. Dia kembali ke dalam kepahitan hidup.

Tetapi kini namanya disebut. Dan ia tahu tak seorang menyebut dia sehalus dan selembut itu selain Yesus, Tuhan dan Pembebasnya. Tuhan selalu menyebut kita dengan nama kita. Yesaya 43:1 mengatakan, “Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” Menyebut nama adalah tindakan kasih, penghargaan dan penerimaan. Maria disebut namanya. Ia dikasihi, dihargai dan diterima sebagai sahabat Yesus.

Karena itu di ayat 16 disebutkan tolehan Maria yang kedua. Tolehan pengharapan. Tolehan luka yang disembuhkan. Bukan lagi tolehan ke arah kubur, namun tolehan ke arah Sang Kehidupan. Karena itu Maria merespon sapaan Yesus dengan sapaan yang juga personal, dengan memakai bahasa Ibunya, bahasa Ibrani, “Rabuni, Guru.” Terjadi perjumpaan yang amat-amat pribadi. Saya menamakannya “Tolehan Paskah” atau “Tolehan Kubur Kosong.”

Sebenarnya muncul tolehan yang ketiga, yang terakhir, yang saya namakan “Tolehan Misi.” Yesus mengutus Maria, menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya. Pada ayat 18 kemudian dikatakan, Maria pergi, meninggalkan Yesus dan menyaksikan kebangkitan, “Aku telah melihat Tuhan.” Tanpa tolehan terakhir ini iman pada Kristus yang bangkit hanya menjadi iman yang egois, iman yang individualistik, iman yang tidak berbuah.

EMPAT

Kata menoleh atau berpaling ini (dalam bahasa Yunani: “strepho“) adalah kata yang penting dalam Alkitab. Pertama menunjukkan gerakan fisik. Tapi yang kedua juga menunjukkan gerakan hidup. Ada perubahan radikal berbalik dalam semua dimensi hidup. Tolehan fisik Maria ini sebenarnya menunjukkan pembalikan hidup Maria. 1 Tes 1:9 menunjukkan makna radikal dari “strepho” ini, “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik (strepho) dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar,”

Berpaling atau menoleh bukan hanya bergeser atau berbelok. Tapi berbalik 180 derajat. Sebuah gerakan “U Turn”. Sebuah transformasi hidup. Dan itulah Paskah.

Saudaraku, Paskah berarti bahwa Allah menoleh dan berpaling pada Anda secara pribadi maupun bagi seluruh dunia ini. Ia merindukan tolehan kita, karena Ia sudah menyapa kita dengan nama kita. Tolehan apa yang kita lakukan untuk menjawab berita Paskah ini? Tolehan kesedihan dan keputusasaan atau tolehan kebangkitan dan sukacita? Kenali Yesus yang bangkit itu. Tak perlu lagi Yesus disalibkan, agar kita mengulang peristiwa tolehan Maria ini. Ia mati dan bangkita sekali untuk selama-lamanya. Sekarang saatnya bagi kita untuk brsedia dijumpai oleh Yesus. Berpalinglah lewat tolehan yang penuh harapan dan sukacita.

Dan lebih dari itu, jangan jadikan kekristenan kita menjadi agama egois. Saatnya bagi kita juga untuk menoleh pada sesama kita. Tidak lagi asyik-masyuk dengan urusan kita sendiri. Entah urusan iman atau urusan perut kita sendiri. Keduanya sama-sama egois. Jika tidak dibarengi dengan tolehan kepada sesama. Karena di sanalah sekali lagi kita jumpai Kristus yang bangkit. Amin.