Archive for the GuraT Category
01
10
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Seminggu terakhir, aku mulai membuka lagi album-album lama gubahan Jose Mari Chan, penyanyi pop Filipina. Salah satu kidungnya sempat top di tahun 80-an (atau 90-an?), Beautiful Girl. Salah satu yang paling kusukai dari album-albumnya adalah “Constant Change”. Berulang kali kudengarkan. Makin jernih ia menggambarkan kegalauanku akhir-akhir ini …
Constant Change
We’re on the road
We move from place to place
And oftentimes when I’m about to call it home
We’d have to move along
Life is a constant change…
The friends we know we meet along the way
Too soon the times we share form part of yesterday
‘Cause life’s a constant change
And nothing stays the same, oh no
Clouds that move across the skies
Are changing form before our very eyes
Why couldn’t we keep time from movin’ on?
Hold on to all the years before this moment’s gone?
Why must we live the days at such a frightening pace?
We’re all like clouds that move across the skies
And changing form before our very eyes
Have we outgrown our Peter Pans and wings?
We’ve simply grown too old for tales of knights and kings
‘Cause life’s a constant change
And nothing stays the same, oh no
No Comments »
22
09
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Today, Lito, my first son, asked me to buy him a new domain: mpazone.com. I had no idea what he is gonna do with this. But, I think, he could try something new … May be he wants to do blogging like other people do … Let’s try.
No Comments »
17
09
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Kamis, 13 September 2007. Sekitar pukul 02.30 pagi. Dengan terperanjat aku dibangunkan isteriku. “Dio kejang-kejang. Badannya panas.” Begitu kata isteriku dengan nada sangat gelisah. Langsung kutelpon suster jaga 24 jam dan kami diminta untuk segera membawa Dio ke Emergency Room. Sejak itu, selama beberapa belas jam sesudahnya, hati kami sungguh menciut. Di ruang ER, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari X-Ray hingga tes darah. Sekitar sejam kemudian, hasil lab muncul. Dio dinyatakan bebas dari infeksi bacteria. Dokter menyimpulkan bahwa Dio mengalami kejang akibat panas mendadak yang muncul akibat infeksi virus. Kami diizinkan pulang. Namun ketika menunggu proses pemulangan, Dio kejang-kejang lagi. Dan kali ini terjadi berulang kali. Dokter langsung memutuskan Dio untuk mondok. Hati saya runtuh seketika. Ada apa ini? Langsung saja suster menyuntikkan Ativan, sejenis obat penenang. Lalu saluran infus dipasang di tangannya. Beberapa saat kemudian dokter masuk dan melakukan pengambilan cairan dari tulang belakang (Cerebrospinal fluid). Belakangan aku baru tahu bahwa epidemic West-Nile dan Meningitis membuat mereka wajib melakukan prosedur yang menyakitkan itu.
Selama proses berjam-jam di ruang ER, Dio menangis terus. Setiap kali suster atau dokter selesai melakukan sebuah tindakan, dia selalu berkata parau, “Bye …” seolah-olah ia yakin sudah diperbolehkan pulang. Namun, ternyata tidak. Setelah suntikan Ativan, Dio tertidur pulas, dengan pipi menempel di dadaku. Kulihat sekilas pipinya masih basah dengan air mata. Dan sesekali ia mengeluarkan suara sesenggukan.
Aku sempat keluar sejenak dan menitipkan Dio ke suster. Sofie sebentar lagi datang dengan membawa Dillion. Aku harus ke mobil untuk mengambil carseat. Di mobil mendadak dadaku begitu penuh. Dan aku menangis sekeras-kerasnya. Menangisi Dio. Tangisan yang jauh lebih kencang sejak terakhir aku menangis pada tahun 2002. Aku menangis tak tahan melihat Dio yang tak jelas nasibnya. Aku menangis karena tak berdaya melakukan apa-apa. Aku menangis memprotes Tuhan, namun sekaligus harus kuakui, aku menangis meminta Tuhan menolong Dio.
Akhirnya, Dio dipindahkan ke ruang 605. Di sana Dio menangis seharian, karena merasa frustasi tak bisa memakai tangan kirinya akibat infus yang terpasang. Wajahnya sudah begitu kuyu dan letih. Hingga akhirnya ia tertidur pulas sekitar pukul 12 siang bersama Sofie. Malamnya, aku tidur di rumah, mendampingi Lito dan Dillion. Dillion sempat bangun minta susu, sekitar pukul 3 subuh. Dan baru tidur lagi pukul 5 pagi. Saat teman-teman muslimku pasti tengah sahur.
Di rumah sakit, pagi-pagi, Dio ditransfer ke ruang MRI. Sekali lagi ia disuntik obat bius supaya tidak bergerak selama pemeriksaan otak. Satu jam kami tak bisa mendampingi Dio adalah saat paling menyesakkan. Akhirnya Dio keluar dan kami boleh mendampinginya. Dan hasil MRI pun keluar. Tak ada masalah dengan otaknya.
Hari itu Dio diizinkan pulang. Semua kemungkinan penyebab kejang sudah dieliminasi. Tinggal satu yang akhirnya menjadi kesimpulan: Dio kejang karena panas akibat infeksi virus. Belasan jam yang meletihkan. Namun, sejak itu, setiap kali menatap wajah anakku, Dio, ada sejumput rasa aneh yang tak kurasakan sebelumnya. Sejenis rasa makin sayang, sejenis rasa welas. Nasibnya sungguh tak bisa dibilang baik. Lahir prematur (32 minggu), 27 hari menetap di rumah sakit di hari-hari awal hidupnya, divonis menderita hypothyroidism yang membuatnya harus menelan hormon pengganti setiap hari seumur hidup, terkena cacar air (chicken pox) ketika berusia 3 bulan, sudah diopname beberapa hari ketika berusia 10 bulan akibat infeksi RSV (Respiratory syncytial virus), lalu masuk ER akibat menelan jatah obat tiroid seminggu. Dan kini kejang-kejang.
Namun juga ada pengalaman baru lain. Semacam penglihatan baru. Aku samar-samar makin melihat wajah Dio (kata Latin untuk Tuhan) di wajah Dio, anakku.
7 Comments »
06
09
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Hari ini kami sekeluarga menghadapi dua pengalaman “separation issue”. Pertama, Lito memulai hari pertamanya di Middle School. Untuk pertama kalinya ia harus naik Bus Sekolah sendirian. Kami sama sekali tidak kuatir, karena selama beberapa bulan terakhir dia sudah mulai ingin ditinggal sendirian di rumah. Ia sudah mulai mandiri. Ketika saya mengantarnya ke spot di mana bus sekolah berhenti, dia meminta saya pulang. Malu agaknya dia dengan beberapa teman baru yang juga menunggu di tempat saya sama.
Yang kedua, Dio (2 tahun, 7 bulan). Untuk pertama kalinya dia ke playing group-nya bersama supir yang menjemputnya dengan mobil. Kali ini Sofie dan saya sungguh-sungguh nervous. Sampai dengan mobil meninggalkan rumah, Dio tak menangis. Cukup menherankan. Mungkin dia belum menyadari bahwa dia ke sekolah sendirian. Bagaimana kalau di jalan dia menangis. Atau, bagaimana kalau terjadi apa-apa. Mungki, ada baiknya saya berhenti menonton film-film detektif dan kriminal kesukaan saya, karena sungguh memberi imaji mengerikan yang amat mengganggu. Salah satu film kesukaan saya adalah Without a Trace, yang selalu berkisah tentang orang yang hilang, kebanyakan karena diculik. Ah. mengerikan …
Saat entry ini ditulis (10.21am) tentulah Dio sudah selesai dengan kelompok bermainnya. Dia pasti sudah berada di dalam mobil dengan orang asing yang menjemputnya itu. 10 menit lagi pasti Sofie menelponku, memberi kabar, anak tersayang sudah kembali ke rumah.
1 Comment »
06
06
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Di Bandara Logan, Boston, sepulang dari Philadelphia, aku menanti jemputan. Seorang rahib Buddha yang masih cukup muda mendekatiku dan berdiri di sampingku. Kusapa dia, namun percakapan tak berjalan baik, karena sang rahib tak bisa berbahasa Inggris. Hanya sempat kuketahui, dia berasal dari Kamboja.
Lantas, ia mengeluarkan sekotak bungkus rokok, 555. Tinggal dua biji. Diambilnya satu dan diisap dengan bergitu nikmat. Itu kali pertama aku melihat seorang rahib Buddha merokok. Sesaat kemudian, seorang muda, bule bertatto, mendekatinya dan meminta rokok pada rahib tersebut. Dan rahib itu menyerahkan satu-satunya rokok yang tersisa kepada anak muda itu.
Di rumah, masih terus terbayang imaji seorang rahib Buddhist yang merokok. Kucari di Google dengan kata kunci: smoking Buddhist monk … dan ternyata ada banyak studi tentang kebiasaan merokok yang cukup tinggi di kalangan rahib Buddhist. 23.4% rahib Buddhist konon memiliki kebiasaan merokok.
3 Comments »
06
06
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Sudah cukup lama rasanya saya tercerabut dari akar ke-asia-an kegiatan berteologi saya. Kesempatan belajar ke Boston membuat saya begitu menikmati hutan rimba teologi-berteologi yang lebih global wataknya. Tradisi kristiani dari berbagai zaman dan tempat begitu mempesona saya.
Hingga, minggu lalu, sebuah kenangan akan akar keasiaan saya digugah ulang, lewat the Asian Theological Summer Institute yang diselenggarakan di Lutheran Theological Seminary at Philadelphia, 29 Mei-3 Juni 2007. Dalam pertemuan ini lima belas mahasiswa doktoral yang tengah mempersiapkan disertasi diundang untuk mempresentasikan gagasan disertasinya, lantas digodok bersama dengan bantuan lima mentor profesor asal Asia yang mengajar di berbagai sekolah di Amerika dan Inggris: Paul Rajashekar, Kwok Pui-lan, R.S. Sugirtharajah, Andrew Sung Park, dan Eleazar Fernandez.
Pertemuan ini sungguh memberi letupan spiritual yang kuat. Apalagi ketika kelima mentor tersebut mensharingkan pengalaman mereka tatkala merampungkan disertasi mereka, serta memberikan kiat serta tip menghadapi “derita” saat berjuang merampungkan studi.
Sehari setelah pulang, dengan semangat besar menyala, kumulai halaman pertama disertasiku. Tertatih-tatih, namun menyenangkan.
2 Comments »
29
03
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Sepenggal kalimat serendipituous yang terujar dalam percakapanku dengan Riyanto Ong di milis Cyber-GKI:
“sebuah teks baru hidup karena interpreter yg hidup. sayangnya teks yang mati bisa mematikan interpreter, justru ketika interpreter itu berusaha menghidupkan teks tanpa merayakan kehidupan di dalam diri si interpreter.”
29 Maret 2007
1 Comment »
29
03
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Hari-hari ini aku berada di ambang batas imajinasi. Pasalnya, prospektus disertasi musti masuk dalam waktu dekat. Judul sementara yang terbayang adalah: Toward a Perichoretic Theology of Religions. Melalui tema ini disertasiku bakal berada di titik simpang antara teologi trinitarian dan teologi agama-agama; sekawan dengan Raimundo Panikkar, S. Mark Heim, Gavin D’Costa, Jacques Dupuis dan teolog-teolog agama-agama lain yang memasuki wilayah ini melalui jalan trinitarian. Secara khusus apa yang kubayangkan adalah: memakai nosi perichoresis sebagai kategori utama membaca kepelbagaian agama. Thesis awalku adalah bahwa tiga model yang ditawarkan oleh trinitarian theologians of religions selama ini bisa disinkronisasi melalui nosi perichosesis ini. Model pertama ditawarkan oleh Panikkar, di mana Trinitas menjadi prinsip kesatuan realitas; model kedua–yang paling lazim–memakai pendekatan “dua tangan Allah” dari Irenaeus, yang menempatkan Kristus dan Roh Kudus dalam relasi dialektis; model ketiga diajukan oleh Mark Heim yang melihat Allah Tritunggal sebagai “lokasi” di mana multiple religious ends berada.
Kini aku berusaha memperlihatkan bahwa ketiga model ini bisa dipahami sebagai dimensi yang berbeda dari satu realitas perichoretic dari Trinitas. Yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah proses imajinatif untuk meramu ketiga model ini bersama, sembari memperluas makna perichoresis yang dalam tradisi Bapa-bapa Gereja sekedar menunjuk pada realitas intra-Trinitarian.
Namun, batas imajinasi sudah kujumpai. Alias: mentok.
3 Comments »
28
03
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Seperti yang sudah menjadi kebiasaan baruku setelah Sofie harus istirahat total untuk menjaga kandungannya, sore ini aku belanja ke supermarket Asia (Super88). Entah kenapa aku beli dua ekor kepiting karang hidup yang besar. Sudah begitu lama kami tak membeli kepiting, selain karena harganya yang mahal, aku dan Sofie juga alergi kepiting. Sore itu aku ingat Lito, yang paling doyan makan kepiting.
Di rumah kumasak dua ekor kepiting itu dengan saos tiram. Lito yang menikam ulu kepiting malang itu dengan pisau besar. Tahun lalu dia masih menjerit-jerit ketika melihat aku melakukannya. Ini mungkin bagian dari proses pendewasaan.
Bau kepiting yang dimasak dengan saos tiram begitu menggiurkan. Setelah itu sibuklah Lito dan ibuku menyantap kepiting lezat itu. Ibuku cuma kebagian setengah ekor dan satu setengah ekor dihabiskan Lito.
Malamnya langsung kubuat jelly rasa jeruk kesukaan Dio dan Lito. Bahagia rasanya bisa menyenangkan hati anak. Lantas kuingat cerita ibuku saat aku masih sekolah di Yogya. Satu kakakku kuliah di Yogya dan satu lagi di Salatiga. Mami dan Papi harus mengirit luar biasa, setelah membagi uang yang diterimanya sebagai pendeta kepada ketiga anaknya. Masing-masing mendapat sesuai kebutuhan, namun amat minim.
Suatu kali dia harus ke Yogya bersama dengan temannya. Di daerah bunderan Stadion Kridosono, mereka melintasi Bakso Kridosono yang terkenal itu. Papi melihat anak-anak sekolah yang jajan di warung bakso itu. Dan ia pun menangis … karena mengingat bahwa anak-anaknya tentu tak bisa jajan seperti anak-anak sekolah yang dilihatnya itu.
Aku bisa merasakan kepiluannya. Perih tentu rasanya bila tak bisa menyenangkan hati anak. Namun, semoga Papi bisa merasa bahagia kini, karena kepiluannya membuatku begitu menghargainya.
2 Comments »
24
03
2007
Posted by: Joas Adiprasetya in GuraT
Sore ini dengan penuh malas kuantar Lito ke sekolahnya. Ada acara International Dinner, katanya. Terus terang saja, akhir-akhir ini kami agak kendor meneliti informasi dan pengumuman yang diberikan sekolah. Maklum, semenjak Sofie harus total bedrest, irama hidup jadi tak menentu. Untunglah sejam sebelum acara neneknya Lito menyediakan diri membuat kueh lapis dari Hungkwee, supaya Lito tidak datang dengan tangan hampa.
Ternyata, yang datang berjibun. Ada puluhan macam masakan dari berbagai negara dihidangkan. Buatan orangtua murid. Di meja-meja makan dipasang bendera berbagai negara. Mbak Ienas, istreri Ulil, selain membuat Sate Ayam juga menjadi panitia, sibuk menyambut orangtua yang datang.
Sekolah Lito, Bowen Elementary School, memang salah satu sekolah yang unggul dalam menghadirkan nafas multikultural. Kemarin, tiap-tiap anak di kelas lima, mempresentasikan karya PowerPoint mereka masing-masing di hadapan para orangtua yang diundang ke kelas. Yang dipresentrasikan adalah tokoh-tokoh kemanusiaan, mulai dari Indira Gandhi hingga W.E.B. DuBois. Mereka menyebut proyek ini The Power of One. Sekalipun sederhana, ternyata presentasi Power-Point mereka tidak jadi Powerless-Pointless. Mengesankan malah. Lito memilih Benjamin Banneker sebagai figur presentasinya.
Itu kira-kira salah satu aspek yang kusukai dari sekolah dasar di dekat rumahku itu.
1 Comment »
|