Archive for the GuraT Category

ada banyak orang protestan mengatakan bahwa term ecclesia reformata semper reformanda merupakan trademark protestantisme. mereka lazimnya merujuk pada tulisan gisbertus voetius (1589-1676), yg aslinya berbunyi ecclesia reformanda quia reformata (gereja harus diperbarui karena sudah diperbarui). sebenarnya pandangan ini kurang tepat, karena term semper reformanda sebenarnya berakar jauh dalam tradisi katolik sebelumnya. bukan ecclecia reformata tapi semper reformanda atau ecclesia semper reformanda.

gereja katolik selalu mengklaim bahwa ecclesia semper reformanda (gereja selalu diperbarui) selalu harus didampingkan dengan klaim lain ecclesia semper eadem (gereja selalu sama). ketika keduanya disatukan akan muncul pemahaman yang agak berbeda dari yg dipaparkan voetius. dengan kedua term itu gereja katolik ingin menegaskan bahwa gereja sekaligus sama sekaligus diperbarui. pembaruan berarti pemurnian (semper purificanda).

ada poin penting dari klaim gereja katolik yang harus digumuli oleh orang-orang protestan, karena term ecclesia reformata (gereja yang sudah diperbarui) bisa mengakibatkan keterputusan total dari gereja segala abad.

[diedit dari sebuah posting ke sebuah milis]

agaknya gereja-gereja protestan pada umumnya masih terus menerima sola scriptura, sekalipun kadar penerimaannya mungkin berbeda-beda. secara umum diterima bahwa alkitab dikanonisasi oleh gereja yang telah memiliki tradisi sebelumnya. kanon alkitab pada tingkat tertentu bisa dikatakan lahir dari rahim tradisi.

harus diingat bahwa ketiga sola dalam protestantisme lahir untuk menjawab situasi real saat itu, bukan untuk menjawab *berapa* sumber otoritas yang harus diterima. dalam pengertian itu sola scriptura dipakai untuk menegaskan bahwa norma yang tertinggi dalam hidup kristiani adalah alkitab. bukan tradisi gereja saat itu.

kalau soal berapa sumbernya, sering dikatakan bahwa kekristenan selalu mengenal empat sumber utama (theological quadrilateral, kata orang2 methodist): alkitab, tradisi, akalbudi dan pengalaman. mereka yg menerima sola scriptura dan masih tetap mengakui tradisi mengatakan bahwa alkitab adalah “norma yang mengukur tapi tidak diukur oleh norma lain” (norma normans sed non normata). sedang ketiga norma lain adalah “norma yang mengukur tapi diukur oleh norma lain (yaitu alkitab)” (norma normans normata). saya sendiri mempercayai bahwa keempat-empatnya harus dianggap sebagai “norma normans normata” dan kristuslah yang menjadi “norma normans non normata”

namun, selain itu, perlu juga dibedakan antara traditio (proses utama penurunalihan sejak awal) dan traditum (isi yang diturunalihkan). agaknya sola scriptura dipakai oleh para reformator untuk menolak traditum gereja katolik saat itu, bukan untuk menolak traditio secara umum, yang diturunalihkan sejak dan oleh bapa-bapa gereja. singkatnya, penerimaan terhadap sola scriptura tidak sama dengan mengatakan: nulla traditio (tanpa tradisi).

lebih dari itu, sebenarnya menurut saya tak cukup hanya tiga sola. karena dalam berbagai bidang lain kita tetap membutuhkan sola-sola lain: sola pneuma, sola ecclesia, sola trinitas, sola spe, solus mundus, dll … bergantung hal apa yg tengah dibahas. misalnya, kalau kita bicara perihal apa yg menyelamatkan kita, ya solo christo. dan harus menolak sola scriptura, karena alkitab tidak menyelamatkan. jika bicara soal allah macam apa yg kita bicarakan kita meyakini sola trinitas dan menolak solo christo, karena akan menjebak kita pada christomonisme. dst …

[diedit dari posting ke sebuah milis]

tadi siang, tepatnya kemarin siang, karena sekarang telah lewat tengah malam dan menjelang subuh, saya dan seorang teman dari gereja orthodox mengunjungi sebuah baiara orthodoks di kawasan brookline. namanya the holy transfiguration monastery. joshua, demikian nama teman saya, mengantar saya untuk mencari replika ikon the holy trinity dari andrei rublev yang tersohor itu. memasuki ruang depan biara, bau incense yang semerbak dan ruangan penuh dengan ikon menghantar saya pada gerbang misteri iman yang tak terhampiri selain lewat puja-puji. beberapa tahun terakhir kekaguman saya tradisi orthodoks timur memang makin menguat dan mempengaruhi cara pandang teologis yang, khususnya dalam hal teologi trinitarian. disertasi yang saya tulis, perihal makna perichoresis untuk teologi agama-agama sangat kuat dipengaruhi bapa-bapa gereja timur.

di biara itu, kami disambut seorang biarawan yang mempersilakan kami kembali dalam setengah jam karena ibadah siang yang belum rampung, sembari ia mempersilakan kami ikut dalam jamuan siang mereka. sayang, makan siang a la vietnam bersama joshua di atrium mall sungguh mengeyangkan. untuk mengisi waktu joshua mengajak saya mengunjungi toko buku holy cross seminary, tempat ia dulu menjalani pendidikan teologi.

akhirnya kami kembali ke biara dan memasuki toko yang menjual ikon dan alamat-alamat ibadah lain. ada ratusan ikon indah terpajang di sana. ada rasa menyekat menyaksikan karya artistik luar biasa itu. sayang ikon rublev yang saya cari tak ada di sana. rupanya, saya baru menyadarinya, biara tersebut berasal dari tradisi yunani, sedang andrei rublev merupakan seorang orthodoks dari tradisi rusia.

namun siang ini saya gembira.

dalam perjalanan pulang, saya melihat seorang biarawan tua, tengah bekerja di taman. tepatnya: tengah berdoa melalui pekerjaannya di taman.

saya lantas ingat pengalaman ekumenis yang sempat saya cicipi, ketika mengikuti konperensi misi dan penginjilan dunia di brasil beberapa belas tahun lalu. saya ingat bagaimana kami, anak-anak muda suka menjahili imam-imam katolik, dengan menarik-narik rambut mereka yang panjang. ah, lengkapnya tak usah diceritakan. memalukan …

Sementara menulis perihal perichoresis dalam tulisan bapa-bapa gereja, sebuah kutipan dari Maximus the Confessor sangat menarik perhatian. Saya kutipkan di bawah ini:

The soul’s salvation is the consummation of faith. This consummation is the revelation of what has been believed. Revelation is the inexpressible interpenetration (perichoresis) of the believer with (or toward, pros) the object of belief and takes place according to each believer’s degree of faith. Through that interpenetration the believer finally returns to his origin. The return is the fulfillment of desire. Fulfillment of desire is ever-active repose in the object of desire. Enjoyment of this kind entails participation in supranatural divine reality. This participation consists in the participant becoming like that in which he participates. Such likeness involves, so far as this is possible, an identity with respect to energy between the participant and that in which he participates by virtue of the likeness. This identity with respect to energy constitutes the deification of the saints. (Ad Thal. 59, PG 90.608C-609B)

kurang dua bab lagi disertasiku rampung. tepatnya, tiga bab lagi, beserta bab penyimpul sekian halaman yang tentunya tak terlalu sukar. namun dua bab terakhir sungguh menyulitkan. rasanya tak ada kekuatan yang tersisa. aku sudah mulai tua rupanya. dan anak terkecilku masih delapan bulan. setiap hari, saat paling nyaman untuk menulis adalah setelah semua penghuni rumah nyenyak. dan aku mampu menulis dengan sangat nikmat hingga sekitar pukul empat pagi. namun setelah berbulan-bulan, remuk juga badan ini rasanya. ngilu dan letih.

dua bab terakhir menjadi pusat seluruh disertasi. yang mau kurumuskan adalah sebuah teologi agama-agama yang berporos pada nosi perichoresis, sebuah gagasan para bapa gereja perihal persekutuan ilahi allah tritunggal: unity-in-communion, sebuah tarian ilahi, di mana seluruh makhluk diundang untuk ikut menari di dalamnya, tanpa kehilangan jati diri dan keunikan. tentu: apa yang tertuang tak sesederhana ini. namun, kerumitan yang kerap menyenangkan untuk diselami ini lebih-lebih dikarenakan imaji perichoresis yang pada dirinya sarat dengan letupan kemungkinan imajinatif. melaluiny–ini gagasan utamaku–kita dimungkinkan untuk merayakan hidup yang berpusat pada sang tiga-esa itu sambil mengintip kemajemukan agama-agama tanpa tendensi untuk membingkai mereka ke dalam sebuah potret kaku doktrinal. perichoresis ilahi memungkinan sebuah imaginative glimpse.

perichoresis juga sebuah imaji yang mengejutkan karena allah yang menari dalam tarian kosmis mengitari chora, sebuah dimensi unik yang dalam filsafat plato ternyata menjadi sebuah pengganggu sistem berfilsafatnya. the perichoretic theology of religions yang kugagas juga berupaya menyuguhkan sosok tarian ilahi yang menghadirkan allah tak lagi sekedar sebagai sebuah being-itself yang bertutur-kata dengan non-being, namun allah yang merupakan sebuah kemungkinan: the god who may be, or the possible god. sang-mungkin (posse) lantas menjadi sebuah ranah baru untuk menyapa allah yang layak dikunjungi, yang memberi banyak kekayaan luhur dibanding allah sebagai sang-ada (esse).

ah, maafkan celotehanku ini. aku hanya letih saja bersolilokui menyongsong fajar setiap hari. kini, “aku mau membangunkan fajar!” (maz. 57:8)

Pada tahun 2005, mas Ang Tek Khun meminta saya untuk menerjemahkan sebuah novel karya Donna vanLiere berjudul The Christmas Shoes. Novel ini bertutur tentang seorang pria yang sukses sebagai seorang pengacara namun memiliki kehidupan perkawinan yang nyaris hancur. Ia mengalami perubahan setelah berjumpa tanpa sengaja di Malam Natal dengan seorang anak kecil yang ingin membeli sepasang sepatu natal untuk ibunya yang sekarat. Cinta kasih yang mewarnai kehidupan anak kecil dan keluarga ini menyadarkan pria ini. Kisah yang disajikan sangat mengharukan. Klik di sini untuk membaca resensi terjemahan novel ini.

Novel ini telah dilayarlebarkan dengan judul yang sama. Silakan menikmatinya di bawah ini:

Jika Anda ingin mendengarkan theme song yang dipakai dalam buku dan movie The Christmas Shoes, silakan klik clip di bawah ini:

Lirik:

It was almost Christmas time,
There I stood in another line
Trying to buy that last gift or two,
Not really in the Christmas mood.
Standing right in front of me
Was a little boy waiting anxiously,
Pacing round like little boys do,
And in his hands, he held a pair of shoes.
And his clothes were worn and old.
He was dirty from head to toe,
And when it came his time to pay,
I couldnt believe what I heard him say.
Chorus:
Sir, I wanna buy these shoes for my momma please.
It's Christmas Eve and these shoes are just her size.
Could you hurry, Sir?
Daddy says there's not much time.
You see, she's been sick for quite a while;
Know these shoes will make her smile.
Want her to look beautiful if Momma meets Jesus tonight.
He counted pennies for what seemed like years
Then the cashier said Theres not enough here.
He searched his pockets frantically
Then he turned and he looked at me.
He said Momma made Christmas good at our house
Though most years she just did without.
Tell me, Sir, what am I gonna do?
Somehow Ive got to buy these Christmas shoes!
So I laid the money down;
I just had to help him out.
And Ill never forget the look on his face
When he said Mommas gonna look so great!
Chorus

I knew that I got a glimpse of heavens love
As he thanked me and ran out.
I knew that God had sent that little boy to remind me
What Christmas is all about.
Chorus in childrens voices
Young boy:
I want her to look beautiful
If Momma meets Jesus tonight.

 

refleksi di bawah merupakan salinan posting saya di milis ficanet, ketika berdiskusi keras dengan seseorang yang menempatkan saya pada serentetan penghakiman yang amat lazim saya alami: joas liberal, sesat, antikristus dan sebagainya. posting respon saya telah saya edit untuk menghilangkan konteks kemunculannya.

j.a.

The Hybrid Joas

ada banyak orang yang terlalu suka memakai binary thinking, seolah2 hanya ada dua kemungkinan: injili dan sisanya. inerrantists dan sisanya (padahal varian terlalu banyak). saya menolak cara berpikir itu dan meyakini bahwa
selalu saja ada inner-diversity dalam diri setiap teolog yang (berusaha untuk) mature.

jadi apakah saya liberal, postliberal, atau injili? ini jawaban saya: ketiga2nya, bukan ketiga2nya, sekaligus ketiga2nya, sekaligus lebih dari ketiganya, sekaligus kurang dari ketiganya. lho? kok gitu? (mereka yg memakai binary thinking akan langsung mendapat celah untuk menyerang apa yg mereka sebut inkonsistensi–yg akan saya jelaskan di bawah).

hidup berteologi (dan semua orang kristen adalah teolog - by definition!) adalah sebuah pengembaraan yang kompleks dan melelahkan. laksana kembara di hutan dengan biodiversity yang sangat-sangat kaya dan kompleks.

ia juga bagai menghadiri pesta maha-besar dengan anekarupa masakan. anda bisa hanya mengambil nasi putih dan krupuk, atau menikmati serbaneka masakan yg tersaji. ada beberapa kemungkinan:

A. HANYA NASI-KRUPUK

1. andi hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa masakan lain tak enak.
2. biduk hanya mengambil nasi dan krupuk tapi tidak mengatakan bahwa masakan lain tak enak.
3. charlie hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa masakan lain enak, tapi tak berani mengambilnya, karena tak pernah.
4. duma hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa nasi-krupuk cukup dan bahwa mengambil masakan lain bisa berarti makan berlebihan.

B. TAK-HANYA-NASI-KRUPUK
5. eko mengambil semua makanan yang ada dan menikmati semuanya.

sementara ada banyak orang yang tampak mengambil peran andi, saya memilih peran eko. lho, bukankah eko rakus dan andi tak rakus? belum tentu! amat mungkin andi makan nasi-krupuk dalam jumlah berlebihan dan amat mungkin eko makan seluruh jenis makanan secukupnya. poinnya bukan soal jumlah, namun soal merayakan pesta yang diselengarakan tuan rumah. dan saya memilih menghargai tuan rumah dengan menyantap seluruh jenis makanan yg tersaji.

saya memilih menghargai kristus, pemilik gereja kristus, dengan menghargai seluruh tradisi yang hadir di dalamnya. saya memilih memberi atensi yang sama terhadap seluruh anggota tubuh (kristus), tinimbang tak menjaga kesehatan anggota tubuh lain dan sibuk asyik-mashyuk dengan urusan jerawat di pipinya saja. saya memilih untuk mulai dengan 2 potong sushi dengan sedikit wasabi dicampur sauce, dilanjutkan kungpao chicken secuil, lalu nasi liwet seadanya, dst dsb …

lalu apa teologi saya? saya seorang liberal? YA! saya seorang postliberal? YA! saya seorang injili? YA!

+ ketika berurusan dengan penghargaan pada kemanusiaan, saya seorang liberal (sekalipun sedang memperhatikan dengan seksama suara2 komunitarianisme).
+ saya seorang postliberal, dalam hal pentingnya menjadi identitas kristiani.
+ saya seorang barthian dalam menghargai kristus lebih dari alkitab.
+ dalam hal pneumatologi, saya lebih dekat dengan teologi ortodoks-timur.
+ dalam hal tritunggal, pengaruh bapa2 kapadokia amat kuat buat saya.
+ dalam hal doktrin penciptaan saya terombang-ambing antara neville dan moltmann.
+ dalam hal teologi agama-agama, saya seorang singularis-trinitarian.
+ dalam hal doktrin penebusan, saya penganut christus-victor theory dan makin senang dengan girard dan heim.
+ dalam hal relasi-antar-gereja, saya jelas seorang ekumenikal.
+ dalam urusan eskatologi, saya suka dengan this-worldly model.
+ saya juga suka dengan tema graced-nature rahner dan katolik.
++++ dan seratus satu tema lain.

di pihak lain, cara pandangnya bisa diubah: apa yang saya TAK suka. dan saya bisa masuk pada seratus satu daftar berikutnya. misalnya: saya menolak ineransi dari injili, saya menolak hidden-foundationalism dari teolog liberal dan minimnya penghargaan pada wahyu ilahi. dll dst dsb …

dan di antara kedua titik-ujung ini tentu ada gradasi sikap: tertarik pada sesuatu, curiga pada yg lain, netral pada satunya lagi, dst. thus, saya seorang teolog hybrid. dan di atas segalanya, saya seorang kristen yang mengasihi allah, a beloved son of god! sikap yg sama agaknya ditunjukkan oleh brian mclaren, seorang injili dari kalangan emergent church. judul bukunya menarik:

A Generous Orthodoxy: Why I Am a Missional, Evangelical, Post/Protestant, Liberal/Conservative, Mystical/Poetic, Biblical,
Charismatic/Contemplative, Fundamentalist/Calvinist, Anabaptist/Anglican, Methodist, Catholic, Green, Incarnational, Depressed-yet-Hopeful, Emergent, Unfinished CHRISTIAN.

jadi itu posisi saya. positionless position. ekstrim tengah. berusaha meyakini bahwa kompromi (Lt: co+promise) teologi adalah kebajikan tertinggi dalam teologi sekaligus tapak berbahaya yg harus diriskir. yang tak lagi menonton televisi B/W, namun belum mampu beli TV high-definition. yg kritis pada reformed-injili namun suka datang ke ibadah mereka. yang bergereja dan menjadi pendeta gki, namun kritis terhadap banyak hal dari gki.

btw, jika anda bertanya pada saya setahun lagi, siapa saya … daftar di atas tentu akan berubah. karena teologi sangat joyful sekaligus dinamis. sebagian aspek akan bertahan dan malah makin kuat. sebagian lagi akan saya tinggalkan dan saya kritisi. insya allah … semua proses membuat saya makin injili sekaligus makin liberal, makin katolik dan makin protestan, makin kristen sekaligus makin humanis.

o, ya, satu lagi: saya sangat meyakini bahwa doktrin apa pun tidak menyelamatkan. hanya kristus yg menyelamatkan.

Powered by ScribeFire.

Berikut salah satu artikel yang ditulis untuk majalah Kasut, GKI Pondok Indah, tiga tahun silam …

Prinsip Protestan yang Memerdekakan
Refleksi Menyambut Ulang Tahun Indonesia

Prinsip Protestan

Apa yang membuat sebuah gereja protestan disebut protestan? Atau, pertanyaan ini bisa dirumuskan secara berbeda begini: Apa yang membedakan protestantisme dari aliran-aliran Kristen lainnya?

Jika pertanyaan ini hendak dijawab secara historis, kita bisa memperoleh jawaban klasik yang selalu mengacu ke perjuangan para reformator berabad-abad silam. Sebuah gereja disebut protestan karena mengajukan protes atas penjualan surat pengampunan dosa oleh gereja Roma Katolik. Dengan kata lain, protestantisme adalah sebuah protest-theism, teisme (iman pada Allah) yang terwujud dalam sikap memprotes. Pasti ada pula yang menjawab bahwa protestantisme berarti pro-testamentum, pro-Alkitab, gerakan kembali kepada Alkitab, yang telah direndahkan oleh gereja Roma Katolik waktu itu hingga setara dengan tradisi gereja.

Tak keliru tentu kedua jawaban klasik ini. Namun harus dikatakan bahwa keduanya juga tak sepenuhnya tepat. Mengapa?

Karena jika hanya itu yang kita tekankan, maka kita tak lagi memiliki keunikan apa-apa yang membuat kita disebut protestan, karena sesungguhnya gereja Roma Katolik sendiri sudah mengalami “reformasi” internalnya sendiri, khususnya setelah konsili Vatikan ke-2 beberapa dekade lalu. Konsili ini sungguh merombak bangunan dasar teologi Katolik sehingga sebagian besar, jika tidak semua, prinsip utamanya makin menyerupai apa yang kita percayai sebagai gereja protestan. Kini, mereka menekankan pentingnya Alkitab, di samping tentu juga tetap menghargai tradisi. Mereka mengakui bahwa keselamatan didasarkan atas anugerah dan iman.

Akan tetapi, sesungguhnya dasar utama dari protestantisme bukan sekadar persoalan unik pada abad ke-16 itu. Semua persoalan itu historis dan kontesktual sifatnya. Apa yang melandasi dan melambari seluruh pergerakan protestantisme hingga ia bisa dan tetap bisa disebut protestan?

Paul Tillich mengusulkan jawabannya dengan apa yang disebutnya “Prinsip Protestan” (Protestant Principle). Menurut Tillich, Prinsip Protestan adalah sebuah sikap kritis atas segala usaha untuk merelatifkan apa yang absolut dan mengabsolutkan apa yang sesungguhnya relatif.

Tillich segera menambahkan bahwa prinsip ini berlaku juga bagi protestantisme. Artinya, siapa saja yang menyebut diri protestant juga menjadi sasaran sikap kritis ini. Dalam ungkapan Tillich, Prinsip Protestan menjadi “sumber bagi dan hakim atas Protestantis-me.” Jika memang demikian, maka protes-tantisme juga berarti pro-to-be-tested, siap diuji oleh apa yang diyakininya sendiri.

Jika Anda kemudian bertanya apakah yang sungguh absolut, maka jawabnya tak lain adalah Allah sendiri. Dengan kata lain, selain Allah tak ada yang absolut. Gereja tidak absolut, ajaran atau doktrin tidak absolut. Teologi tidak absolut. Bagaimana dengan Alkitab? Tanpa ragu saya mengatakan, Alkitab pun tidaklah absolut, karena Alkitab adalah kesaksian tentang Allah yang absolut, namun bukan Allah itu sendiri.

Jika Prinsip Protestan ini dipegang dengan teguh, maka setidaknya ada tiga akibat yang serta-merta menyertainya.

Pertama, kita memperoleh dasar kuat untuk melanjutkan proses reformasi. Istilah khas yang kerap dipakai dalam lingkup gereja adalah: ecclesia reformata sed semper reformata, gereja yang sudah diperbarui tetapi harus selalu diperbarui. Karena itu sia-sialah usaha sebagian kelompok protestan yang dengan gagahnya mengklaim ajaran mereka sebagai usaha kembali ke doktrin para reformator.

Usaha ini bukan saja sia-sia, karena tidak sesuai dengan nafas zaman kini, namun juga berbahaya, karena muncul godaan besar untuk meng-absolutkan ajaran reformator itu sendiri. Bahkan, sikap kritis yang sama harus ditujukan kepada mereka yang selalu mengklaim ingin kembali ke Alkitab, back to the Bible. Bahaya besar yang mengintip mereka adalah bibliolatri, pemberhalaan dan pengabsolutan Alkitab. Karena semua yang bukan Allah tidak absolut, maka seluruhnya perlu selalu dievaluasi ulang, dikritisi dan diperbarui.

Kedua, Prinsip Pro-testan membuat kita sadar bahwa tidak ada satu kelompok pun yang bisa mengklaim diri mutlak benar. Karena lagi-lagi hanya Allahlah yang mutlak benar. Jika sikap ini dihayati, maka tidak ada lagi kepongahan untuk menuduh kelompok lain sesat atau keliru, hanya karena tidak sejalan dengan apa yang kita sendiri yakini. Ketiga, Prinsip Protestan juga memberdayakan kita untuk menerima dan menghayati makna kebebasan dan kemerdekaan kristiani. Hal ini dibahas secara khusus dalam bagian berikut.

Kemerdekaan

Karena segala sesuatu yang bukan Allah tidak absolut, maka kita tidak bisa meletakkan diri di bawah yang bukan Allah. Bukankah ini pesan utama Paulus ketika ia menulis, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal 5.1). Paulus menawarkan kepada jemaat Galatia dua model kemerdekaan kristiani yang membuat mereka “sungguh-sungguh merdeka”.

Pertama, kemerdekaan sejati yang dikerjakan oleh Kristus. Bagi Paulus, Kristus adalah pemerdeka, pembebas sejati. Karena itu dalam perspektif kristiani, segala bentuk pemerdekaan atau pembebasan perlu dihayati dalam terang karya Kristus. Saya percaya bahwa karya pemerdekaan Kristus bukan sekadar mencakup “pemerdekaan rohani,” sebagaimana sering dipahami banyak orang. Namun, karya Kristus juga memerdeka-kan manusia secara utuh dan menyeluruh.

Bukankah dengan demikian umat kristiani secara tegas mengimani pernyataan dalam paragraf ketiga Mukadimah Undang-undang Dasar 1945, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Kedua, Paulus juga menulis bahwa kemerdekaan yang diberikan Kristus itu perlu didampingi dengan kemerdekaan yang terus-menerus harus diusahakan dan perjuangkan, “…berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Kemerdekaan adalah sebuah pemberian sekaligus penugasan. Dalam bahasa Jerman dipergunakan dua kata yang terkait erat: gabe (pemberian) dan aufgabe (penugasan).

Saya percaya, salah satu aspek penugasan untuk memperjuangkan kemerdekaan ini terumus dalam sikap “protes” atas segala bentuk pengabsolutan yang relatif dan perelatifan yang absolut. Siapa saja yang menyetujui Prinsip Protestan terpanggil untuk melakukan protes atas segala bentuk penindasan, penghapusan kemerdekaan dan ketidakadilan. Inilah aspek sosial dan politis dari apa yang disebut protestantisme.

Paradoks Kemerdekaan

Saya percaya bahwa kemerdekaan atau kebebasan bukanlah akhir dari segala-galanya. Ia bukanlah tujuan akhir. Karena jika ia menjadi tujuan akhir yang diperjuangkan habis-habisan, yang terjadi adalah konflik antara pihak-pihak yang memperjuangkan kebebasan itu sendiri.

Reformasi menjadi deformasi. Karena itu, kemerdekaan sejati justru membebaskan pula pihak lain, walaupun untuk itu kita perlu memberi bentuk lain atas kebebasan kita sendiri.

Ungkapan terkenal Martin Luther memperjelas maksud saya. Ia menulis secara paradoksal dalam Concerning Christian Liberty, “Seorang Kristen adalah tuan yang bebas atas semua, dan tidak terikat pada apapun; seorang Kristen adalah hamba yang taat bagi semua orang, dan terikat pada setiap orang.”

Betapa paradoksalnya. Namun Luther menegaskan bahwa paradoks kemerdekaan kristiani yang dia ungkapkan sesungguhnya merupakan parafrase dari ungkapan Paulus dalam 1 Korintus 9:19, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”

Bahkan ia menambahkan bahwa ungkapan paradoksalnya terekspresi paling tepat dalam figur Yesus Kristus yang “walaupun adalah Tuhan dari segala sesuatu, diperanakkan dari seorang perempuan, berada di bawah hukum, bebas namun sekaligus seorang hamba …”

Inilah pola kemerdekaan yang memerdekakan sesama, kemerdekaan yang bukan “memenangi” (menang atas) namun “memenangkan” (membuat menang) orang lain. Prinsip Protestan dengan demikian bukan sekadar sebuah undangan menjadi nabi yang memprotes segala bentuk absolutisasi yang relatif dan relativasi Allah yang absolut, namun juga undangan menjadi hamba yang mengikat diri demi membuka ikatan orang lain.

Selamat merayakan ulang tahun negara kita tercinta.

Bacaan: Tulisan Paul Tillich mengenai Prinsip Protestan dapat dijumpai di bukunya, Protestant Era. Anda bisa mengaksesnya di http://www.religion-online.org/showbook.asp?title=380. Tillich juga banyak membahas ide ini dalam bukunya yang lain, Systematic Theology, 3. Sedang tulisan Martin Luther yang saya kutip berjudul Concerning Christian Liberty, yang dapat diakses secara online di http://www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/web/cclib-2.html.

Boston, August 2004

Entry ini kutulis saat mengawasi ujiad midterm kelas di mana aku menjadi TA. Sementara para mahasiswa mengetik jawaban mereka, iseng-iseng kubuka salah satu komputer iMac. Wah, ternyata okay banget. Mantap. Kenapa tak dari dulu aku beralih ke Mac??

Beberapa waktu lalu aku meluangkan waktu mengunduh buku-buku gratis yang disediakan Google. Aku sampai pada buku Calvin (Institutio). Satu halaman muncul mengejutkan: Ada gambar jari-jari yang memakai sarung-jari. Tak sengaja terpindai. Persis di halaman judul dalam. So funny!