Author Archive

Berikut salah satu artikel yang ditulis untuk majalah Kasut, GKI Pondok Indah, tiga tahun silam …

Prinsip Protestan yang Memerdekakan
Refleksi Menyambut Ulang Tahun Indonesia

Prinsip Protestan

Apa yang membuat sebuah gereja protestan disebut protestan? Atau, pertanyaan ini bisa dirumuskan secara berbeda begini: Apa yang membedakan protestantisme dari aliran-aliran Kristen lainnya?

Jika pertanyaan ini hendak dijawab secara historis, kita bisa memperoleh jawaban klasik yang selalu mengacu ke perjuangan para reformator berabad-abad silam. Sebuah gereja disebut protestan karena mengajukan protes atas penjualan surat pengampunan dosa oleh gereja Roma Katolik. Dengan kata lain, protestantisme adalah sebuah protest-theism, teisme (iman pada Allah) yang terwujud dalam sikap memprotes. Pasti ada pula yang menjawab bahwa protestantisme berarti pro-testamentum, pro-Alkitab, gerakan kembali kepada Alkitab, yang telah direndahkan oleh gereja Roma Katolik waktu itu hingga setara dengan tradisi gereja.

Tak keliru tentu kedua jawaban klasik ini. Namun harus dikatakan bahwa keduanya juga tak sepenuhnya tepat. Mengapa?

Karena jika hanya itu yang kita tekankan, maka kita tak lagi memiliki keunikan apa-apa yang membuat kita disebut protestan, karena sesungguhnya gereja Roma Katolik sendiri sudah mengalami “reformasi” internalnya sendiri, khususnya setelah konsili Vatikan ke-2 beberapa dekade lalu. Konsili ini sungguh merombak bangunan dasar teologi Katolik sehingga sebagian besar, jika tidak semua, prinsip utamanya makin menyerupai apa yang kita percayai sebagai gereja protestan. Kini, mereka menekankan pentingnya Alkitab, di samping tentu juga tetap menghargai tradisi. Mereka mengakui bahwa keselamatan didasarkan atas anugerah dan iman.

Akan tetapi, sesungguhnya dasar utama dari protestantisme bukan sekadar persoalan unik pada abad ke-16 itu. Semua persoalan itu historis dan kontesktual sifatnya. Apa yang melandasi dan melambari seluruh pergerakan protestantisme hingga ia bisa dan tetap bisa disebut protestan?

Paul Tillich mengusulkan jawabannya dengan apa yang disebutnya “Prinsip Protestan” (Protestant Principle). Menurut Tillich, Prinsip Protestan adalah sebuah sikap kritis atas segala usaha untuk merelatifkan apa yang absolut dan mengabsolutkan apa yang sesungguhnya relatif.

Tillich segera menambahkan bahwa prinsip ini berlaku juga bagi protestantisme. Artinya, siapa saja yang menyebut diri protestant juga menjadi sasaran sikap kritis ini. Dalam ungkapan Tillich, Prinsip Protestan menjadi “sumber bagi dan hakim atas Protestantis-me.” Jika memang demikian, maka protes-tantisme juga berarti pro-to-be-tested, siap diuji oleh apa yang diyakininya sendiri.

Jika Anda kemudian bertanya apakah yang sungguh absolut, maka jawabnya tak lain adalah Allah sendiri. Dengan kata lain, selain Allah tak ada yang absolut. Gereja tidak absolut, ajaran atau doktrin tidak absolut. Teologi tidak absolut. Bagaimana dengan Alkitab? Tanpa ragu saya mengatakan, Alkitab pun tidaklah absolut, karena Alkitab adalah kesaksian tentang Allah yang absolut, namun bukan Allah itu sendiri.

Jika Prinsip Protestan ini dipegang dengan teguh, maka setidaknya ada tiga akibat yang serta-merta menyertainya.

Pertama, kita memperoleh dasar kuat untuk melanjutkan proses reformasi. Istilah khas yang kerap dipakai dalam lingkup gereja adalah: ecclesia reformata sed semper reformata, gereja yang sudah diperbarui tetapi harus selalu diperbarui. Karena itu sia-sialah usaha sebagian kelompok protestan yang dengan gagahnya mengklaim ajaran mereka sebagai usaha kembali ke doktrin para reformator.

Usaha ini bukan saja sia-sia, karena tidak sesuai dengan nafas zaman kini, namun juga berbahaya, karena muncul godaan besar untuk meng-absolutkan ajaran reformator itu sendiri. Bahkan, sikap kritis yang sama harus ditujukan kepada mereka yang selalu mengklaim ingin kembali ke Alkitab, back to the Bible. Bahaya besar yang mengintip mereka adalah bibliolatri, pemberhalaan dan pengabsolutan Alkitab. Karena semua yang bukan Allah tidak absolut, maka seluruhnya perlu selalu dievaluasi ulang, dikritisi dan diperbarui.

Kedua, Prinsip Pro-testan membuat kita sadar bahwa tidak ada satu kelompok pun yang bisa mengklaim diri mutlak benar. Karena lagi-lagi hanya Allahlah yang mutlak benar. Jika sikap ini dihayati, maka tidak ada lagi kepongahan untuk menuduh kelompok lain sesat atau keliru, hanya karena tidak sejalan dengan apa yang kita sendiri yakini. Ketiga, Prinsip Protestan juga memberdayakan kita untuk menerima dan menghayati makna kebebasan dan kemerdekaan kristiani. Hal ini dibahas secara khusus dalam bagian berikut.

Kemerdekaan

Karena segala sesuatu yang bukan Allah tidak absolut, maka kita tidak bisa meletakkan diri di bawah yang bukan Allah. Bukankah ini pesan utama Paulus ketika ia menulis, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal 5.1). Paulus menawarkan kepada jemaat Galatia dua model kemerdekaan kristiani yang membuat mereka “sungguh-sungguh merdeka”.

Pertama, kemerdekaan sejati yang dikerjakan oleh Kristus. Bagi Paulus, Kristus adalah pemerdeka, pembebas sejati. Karena itu dalam perspektif kristiani, segala bentuk pemerdekaan atau pembebasan perlu dihayati dalam terang karya Kristus. Saya percaya bahwa karya pemerdekaan Kristus bukan sekadar mencakup “pemerdekaan rohani,” sebagaimana sering dipahami banyak orang. Namun, karya Kristus juga memerdeka-kan manusia secara utuh dan menyeluruh.

Bukankah dengan demikian umat kristiani secara tegas mengimani pernyataan dalam paragraf ketiga Mukadimah Undang-undang Dasar 1945, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Kedua, Paulus juga menulis bahwa kemerdekaan yang diberikan Kristus itu perlu didampingi dengan kemerdekaan yang terus-menerus harus diusahakan dan perjuangkan, “…berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Kemerdekaan adalah sebuah pemberian sekaligus penugasan. Dalam bahasa Jerman dipergunakan dua kata yang terkait erat: gabe (pemberian) dan aufgabe (penugasan).

Saya percaya, salah satu aspek penugasan untuk memperjuangkan kemerdekaan ini terumus dalam sikap “protes” atas segala bentuk pengabsolutan yang relatif dan perelatifan yang absolut. Siapa saja yang menyetujui Prinsip Protestan terpanggil untuk melakukan protes atas segala bentuk penindasan, penghapusan kemerdekaan dan ketidakadilan. Inilah aspek sosial dan politis dari apa yang disebut protestantisme.

Paradoks Kemerdekaan

Saya percaya bahwa kemerdekaan atau kebebasan bukanlah akhir dari segala-galanya. Ia bukanlah tujuan akhir. Karena jika ia menjadi tujuan akhir yang diperjuangkan habis-habisan, yang terjadi adalah konflik antara pihak-pihak yang memperjuangkan kebebasan itu sendiri.

Reformasi menjadi deformasi. Karena itu, kemerdekaan sejati justru membebaskan pula pihak lain, walaupun untuk itu kita perlu memberi bentuk lain atas kebebasan kita sendiri.

Ungkapan terkenal Martin Luther memperjelas maksud saya. Ia menulis secara paradoksal dalam Concerning Christian Liberty, “Seorang Kristen adalah tuan yang bebas atas semua, dan tidak terikat pada apapun; seorang Kristen adalah hamba yang taat bagi semua orang, dan terikat pada setiap orang.”

Betapa paradoksalnya. Namun Luther menegaskan bahwa paradoks kemerdekaan kristiani yang dia ungkapkan sesungguhnya merupakan parafrase dari ungkapan Paulus dalam 1 Korintus 9:19, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”

Bahkan ia menambahkan bahwa ungkapan paradoksalnya terekspresi paling tepat dalam figur Yesus Kristus yang “walaupun adalah Tuhan dari segala sesuatu, diperanakkan dari seorang perempuan, berada di bawah hukum, bebas namun sekaligus seorang hamba …”

Inilah pola kemerdekaan yang memerdekakan sesama, kemerdekaan yang bukan “memenangi” (menang atas) namun “memenangkan” (membuat menang) orang lain. Prinsip Protestan dengan demikian bukan sekadar sebuah undangan menjadi nabi yang memprotes segala bentuk absolutisasi yang relatif dan relativasi Allah yang absolut, namun juga undangan menjadi hamba yang mengikat diri demi membuka ikatan orang lain.

Selamat merayakan ulang tahun negara kita tercinta.

Bacaan: Tulisan Paul Tillich mengenai Prinsip Protestan dapat dijumpai di bukunya, Protestant Era. Anda bisa mengaksesnya di http://www.religion-online.org/showbook.asp?title=380. Tillich juga banyak membahas ide ini dalam bukunya yang lain, Systematic Theology, 3. Sedang tulisan Martin Luther yang saya kutip berjudul Concerning Christian Liberty, yang dapat diakses secara online di http://www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/web/cclib-2.html.

Boston, August 2004

Entry ini kutulis saat mengawasi ujiad midterm kelas di mana aku menjadi TA. Sementara para mahasiswa mengetik jawaban mereka, iseng-iseng kubuka salah satu komputer iMac. Wah, ternyata okay banget. Mantap. Kenapa tak dari dulu aku beralih ke Mac??

Beberapa waktu lalu aku meluangkan waktu mengunduh buku-buku gratis yang disediakan Google. Aku sampai pada buku Calvin (Institutio). Satu halaman muncul mengejutkan: Ada gambar jari-jari yang memakai sarung-jari. Tak sengaja terpindai. Persis di halaman judul dalam. So funny!

Seminggu terakhir, aku mulai membuka lagi album-album lama gubahan Jose Mari Chan, penyanyi pop Filipina. Salah satu kidungnya sempat top di tahun 80-an (atau 90-an?), Beautiful Girl. Salah satu yang paling kusukai dari album-albumnya adalah “Constant Change”. Berulang kali kudengarkan. Makin jernih ia menggambarkan kegalauanku akhir-akhir ini …

Constant Change

We’re on the road
We move from place to place
And oftentimes when I’m about to call it home
We’d have to move along
Life is a constant change…

The friends we know we meet along the way
Too soon the times we share form part of yesterday
‘Cause life’s a constant change
And nothing stays the same, oh no

Clouds that move across the skies
Are changing form before our very eyes

Why couldn’t we keep time from movin’ on?
Hold on to all the years before this moment’s gone?
Why must we live the days at such a frightening pace?

We’re all like clouds that move across the skies
And changing form before our very eyes

Have we outgrown our Peter Pans and wings?
We’ve simply grown too old for tales of knights and kings
‘Cause life’s a constant change
And nothing stays the same, oh no

Today, Lito, my first son, asked me to buy him a new domain: mpazone.com. I had no idea what he is gonna do with this. But, I think, he could try something new … May be he wants to do blogging like other people do … Let’s try.

Kamis, 13 September 2007. Sekitar pukul 02.30 pagi. Dengan terperanjat aku dibangunkan isteriku. “Dio kejang-kejang. Badannya panas.” Begitu kata isteriku dengan nada sangat gelisah. Langsung kutelpon suster jaga 24 jam dan kami diminta untuk segera membawa Dio ke Emergency Room. Sejak itu, selama beberapa belas jam sesudahnya, hati kami sungguh menciut. Di ruang ER, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari X-Ray hingga tes darah. Sekitar sejam kemudian, hasil lab muncul. Dio dinyatakan bebas dari infeksi bacteria. Dokter menyimpulkan bahwa Dio mengalami kejang akibat panas mendadak yang muncul akibat infeksi virus. Kami diizinkan pulang. Namun ketika menunggu proses pemulangan, Dio kejang-kejang lagi. Dan kali ini terjadi berulang kali. Dokter langsung memutuskan Dio untuk mondok. Hati saya runtuh seketika. Ada apa ini? Langsung saja suster menyuntikkan Ativan, sejenis obat penenang. Lalu saluran infus dipasang di tangannya. Beberapa saat kemudian dokter masuk dan melakukan pengambilan cairan dari tulang belakang (Cerebrospinal fluid). Belakangan aku baru tahu bahwa epidemic West-Nile dan Meningitis membuat mereka wajib melakukan prosedur yang menyakitkan itu.

Selama proses berjam-jam di ruang ER, Dio menangis terus. Setiap kali suster atau dokter selesai melakukan sebuah tindakan, dia selalu berkata parau, “Bye …” seolah-olah ia yakin sudah diperbolehkan pulang. Namun, ternyata tidak. Setelah suntikan Ativan, Dio tertidur pulas, dengan pipi menempel di dadaku. Kulihat sekilas pipinya masih basah dengan air mata. Dan sesekali ia mengeluarkan suara sesenggukan.

Aku sempat keluar sejenak dan menitipkan Dio ke suster. Sofie sebentar lagi datang dengan membawa Dillion. Aku harus ke mobil untuk mengambil carseat. Di mobil mendadak dadaku begitu penuh. Dan aku menangis sekeras-kerasnya. Menangisi Dio. Tangisan yang jauh lebih kencang sejak terakhir aku menangis pada tahun 2002. Aku menangis tak tahan melihat Dio yang tak jelas nasibnya. Aku menangis karena tak berdaya melakukan apa-apa. Aku menangis memprotes Tuhan, namun sekaligus harus kuakui, aku menangis meminta Tuhan menolong Dio.

Akhirnya, Dio dipindahkan ke ruang 605. Di sana Dio menangis seharian, karena merasa frustasi tak bisa memakai tangan kirinya akibat infus yang terpasang. Wajahnya sudah begitu kuyu dan letih. Hingga akhirnya ia tertidur pulas sekitar pukul 12 siang bersama Sofie. Malamnya, aku tidur di rumah, mendampingi Lito dan Dillion. Dillion sempat bangun minta susu, sekitar pukul 3 subuh. Dan baru tidur lagi pukul 5 pagi. Saat teman-teman muslimku pasti tengah sahur.

Di rumah sakit, pagi-pagi, Dio ditransfer ke ruang MRI. Sekali lagi ia disuntik obat bius supaya tidak bergerak selama pemeriksaan otak. Satu jam kami tak bisa mendampingi Dio adalah saat paling menyesakkan. Akhirnya Dio keluar dan kami boleh mendampinginya. Dan hasil MRI pun keluar. Tak ada masalah dengan otaknya.

Hari itu Dio diizinkan pulang. Semua kemungkinan penyebab kejang sudah dieliminasi. Tinggal satu yang akhirnya menjadi kesimpulan: Dio kejang karena panas akibat infeksi virus. Belasan jam yang meletihkan. Namun, sejak itu, setiap kali menatap wajah anakku, Dio, ada sejumput rasa aneh yang tak kurasakan sebelumnya. Sejenis rasa makin sayang, sejenis rasa welas. Nasibnya sungguh tak bisa dibilang baik. Lahir prematur (32 minggu), 27 hari menetap di rumah sakit di hari-hari awal hidupnya, divonis menderita hypothyroidism yang membuatnya harus menelan hormon pengganti setiap hari seumur hidup, terkena cacar air (chicken pox) ketika berusia 3 bulan, sudah diopname beberapa hari ketika berusia 10 bulan akibat infeksi RSV (Respiratory syncytial virus), lalu masuk ER akibat menelan jatah obat tiroid seminggu. Dan kini kejang-kejang.

Namun juga ada pengalaman baru lain. Semacam penglihatan baru. Aku samar-samar makin melihat wajah Dio (kata Latin untuk Tuhan) di wajah Dio, anakku.

Hari ini kami sekeluarga menghadapi dua pengalaman “separation issue”. Pertama, Lito memulai hari pertamanya di Middle School. Untuk pertama kalinya ia harus naik Bus Sekolah sendirian. Kami sama sekali tidak kuatir, karena selama beberapa bulan terakhir dia sudah mulai ingin ditinggal sendirian di rumah. Ia sudah mulai mandiri. Ketika saya mengantarnya ke spot di mana bus sekolah berhenti, dia meminta saya pulang. Malu agaknya dia dengan beberapa teman baru yang juga menunggu di tempat saya sama.

Yang kedua, Dio (2 tahun, 7 bulan). Untuk pertama kalinya dia ke playing group-nya bersama supir yang menjemputnya dengan mobil. Kali ini Sofie dan saya sungguh-sungguh nervous. Sampai dengan mobil meninggalkan rumah, Dio tak menangis. Cukup menherankan. Mungkin dia belum menyadari bahwa dia ke sekolah sendirian. Bagaimana kalau di jalan dia menangis. Atau, bagaimana kalau terjadi apa-apa. Mungki, ada baiknya saya berhenti menonton film-film detektif dan kriminal kesukaan saya, karena sungguh memberi imaji mengerikan yang amat mengganggu. Salah satu film kesukaan saya adalah Without a Trace, yang selalu berkisah tentang orang yang hilang, kebanyakan karena diculik. Ah. mengerikan …

Saat entry ini ditulis (10.21am) tentulah Dio sudah selesai dengan kelompok bermainnya. Dia pasti sudah berada di dalam mobil dengan orang asing yang menjemputnya itu. 10 menit lagi pasti Sofie menelponku, memberi kabar, anak tersayang sudah kembali ke rumah.

Di Bandara Logan, Boston, sepulang dari Philadelphia, aku menanti jemputan. Seorang rahib Buddha yang masih cukup muda mendekatiku dan berdiri di sampingku. Kusapa dia, namun percakapan tak berjalan baik, karena sang rahib tak bisa berbahasa Inggris. Hanya sempat kuketahui, dia berasal dari Kamboja.

Lantas, ia mengeluarkan sekotak bungkus rokok, 555. Tinggal dua biji. Diambilnya satu dan diisap dengan bergitu nikmat. Itu kali pertama aku melihat seorang rahib Buddha merokok. Sesaat kemudian, seorang muda, bule bertatto, mendekatinya dan meminta rokok pada rahib tersebut. Dan rahib itu menyerahkan satu-satunya rokok yang tersisa kepada anak muda itu.

Di rumah, masih terus terbayang imaji seorang rahib Buddhist yang merokok. Kucari di Google dengan kata kunci: smoking Buddhist monk … dan ternyata ada banyak studi tentang kebiasaan merokok yang cukup tinggi di kalangan rahib Buddhist. 23.4% rahib Buddhist konon memiliki kebiasaan merokok1.

  1. lihat situs ini: http://abc.net.au/science/news/health/HealthRepublish_1380995.htm []

Sudah cukup lama rasanya saya tercerabut dari akar ke-asia-an kegiatan berteologi saya. Kesempatan belajar ke Boston membuat saya begitu menikmati hutan rimba teologi-berteologi yang lebih global wataknya. Tradisi kristiani dari berbagai zaman dan tempat begitu mempesona saya.

Hingga, minggu lalu, sebuah kenangan akan akar keasiaan saya digugah ulang, lewat the Asian Theological Summer Institute yang diselenggarakan di Lutheran Theological Seminary at Philadelphia, 29 Mei-3 Juni 2007. Dalam pertemuan ini lima belas mahasiswa doktoral yang tengah mempersiapkan disertasi diundang untuk mempresentasikan gagasan disertasinya, lantas digodok bersama dengan bantuan lima mentor profesor asal Asia yang mengajar di berbagai sekolah di Amerika dan Inggris: Paul Rajashekar, Kwok Pui-lan, R.S. Sugirtharajah, Andrew Sung Park, dan Eleazar Fernandez.

Pertemuan ini sungguh memberi letupan spiritual yang kuat. Apalagi ketika kelima mentor tersebut mensharingkan pengalaman mereka tatkala merampungkan disertasi mereka, serta memberikan kiat serta tip menghadapi “derita” saat berjuang merampungkan studi.

Sehari setelah pulang, dengan semangat besar menyala, kumulai halaman pertama disertasiku. Tertatih-tatih, namun menyenangkan.

Anda bisa bayangkan betapa sukarnya memotret seorang anak berusia dua tahun dalam posisi tegak dan tenang. Itu yang saya alami ketika harus membuat paspor untuk Dio. Belasan kali pengambilan gambar selalu gagal. Berikut ini kompilasi foto-foto gagal Dio, yang mungkin menarik dibagikan.