Warning: copy() [function.copy]: Filename cannot be empty in /home4/icfbosto/public_html/joas/wp-content/plugins/mytube/mytube.php on line 220

agaknya gereja-gereja protestan pada umumnya masih terus menerima sola scriptura, sekalipun kadar penerimaannya mungkin berbeda-beda. secara umum diterima bahwa alkitab dikanonisasi oleh gereja yang telah memiliki tradisi sebelumnya. kanon alkitab pada tingkat tertentu bisa dikatakan lahir dari rahim tradisi.

harus diingat bahwa ketiga sola dalam protestantisme lahir untuk menjawab situasi real saat itu, bukan untuk menjawab *berapa* sumber otoritas yang harus diterima. dalam pengertian itu sola scriptura dipakai untuk menegaskan bahwa norma yang tertinggi dalam hidup kristiani adalah alkitab. bukan tradisi gereja saat itu.

kalau soal berapa sumbernya, sering dikatakan bahwa kekristenan selalu mengenal empat sumber utama (theological quadrilateral, kata orang2 methodist): alkitab, tradisi, akalbudi dan pengalaman. mereka yg menerima sola scriptura dan masih tetap mengakui tradisi mengatakan bahwa alkitab adalah “norma yang mengukur tapi tidak diukur oleh norma lain” (norma normans sed non normata). sedang ketiga norma lain adalah “norma yang mengukur tapi diukur oleh norma lain (yaitu alkitab)” (norma normans normata). saya sendiri mempercayai bahwa keempat-empatnya harus dianggap sebagai “norma normans normata” dan kristuslah yang menjadi “norma normans non normata”

namun, selain itu, perlu juga dibedakan antara traditio (proses utama penurunalihan sejak awal) dan traditum (isi yang diturunalihkan). agaknya sola scriptura dipakai oleh para reformator untuk menolak traditum gereja katolik saat itu, bukan untuk menolak traditio secara umum, yang diturunalihkan sejak dan oleh bapa-bapa gereja. singkatnya, penerimaan terhadap sola scriptura tidak sama dengan mengatakan: nulla traditio (tanpa tradisi).

lebih dari itu, sebenarnya menurut saya tak cukup hanya tiga sola. karena dalam berbagai bidang lain kita tetap membutuhkan sola-sola lain: sola pneuma, sola ecclesia, sola trinitas, sola spe, solus mundus, dll … bergantung hal apa yg tengah dibahas. misalnya, kalau kita bicara perihal apa yg menyelamatkan kita, ya solo christo. dan harus menolak sola scriptura, karena alkitab tidak menyelamatkan. jika bicara soal allah macam apa yg kita bicarakan kita meyakini sola trinitas dan menolak solo christo, karena akan menjebak kita pada christomonisme. dst …

[diedit dari posting ke sebuah milis]

2 Responses to “sola scriptura”
  1. murid Yesus says:

    Havenu Shalom Elohim !

    ” I wish you in Merry Christmas and Happy New Year “

  2. Bobby Felix says:

    secara umum diterima bahwa alkitab dikanonisasi oleh gereja yang telah memiliki tradisi sebelumnya. kanon alkitab pada tingkat tertentu bisa dikatakan lahir dari rahim tradisi.

    >>>(Tanggapan)
    Tradisi telah ada sebelum Alkitab ditulis bahkan turut menentukan daftar kanon Alkitab mengingat banyaknya kitab2 dari para bidat yg tak segan2 memakai nama para Rasul sbg nama kitabnya.
    Rasul Paulus meminta kita utk berpegang pada Tradisi (LAI menerjemahkan dgn “ajaran2″) baik yg tertulis maupun lisan (2 Tes 2:15) ini karena tidak mungkin seluruh ajaran Yesus/kekristenan dpt dituliskan sebab dunia ini tidak akan muat (Yoh 21:25). Dan Alkitab bahkan tidak mengajarkan Sola Scriptura. Maka pantas jika dikatakan : Sola Scriptura YANG TIDAK Sola Scriptura.

    Berikut tulisan saya mengenai Sola Scriptura.

    MENGAPA TIDAK SOLA SCRIPTURA?

    Sebelum dibahas, ada baiknya disepakati dulu ttg pemakaian istilah agar tidak terjadi ke-salah mengerti-an dalam diskusi yg diakibatkan perbedaan persepsi penggunaan istilah.

    PEMAKAIAN ISTILAH

    Adalah tidak tepat mengkontraskan antara Alkitab dgn Tradisi karena Alkitab pada hakekatnya adalah juga merupakan sebuah Tradisi (dalam hal ini Tradisi tertulis). Mengapa Alkitab disebut sbg Tradisi? Perlu diingat terlebih dahulu pengertian dari Tradisi. Apa itu Tradisi? Tradisi adalah sejumlah ajaran yg berasal dari seseorang/sekelompok tertentu yg kemudian diwariskan & diajarkan dari generasi ke generasi. Maka dari itu tepatlah bila Alkitab dikatakan adalah sebuah Tradisi. Bukankah kebenaran ajaran Alkitab yg berasal dari para rasul & para nabi diwariskan & diajarkan dari generasi ke generasi hingga saat ini? Namun telah menjadi kesepakatan tidak tertulis dalam berbagai diskusi (terutama dgn rekan protestan) yg membahas ttg Sola Scriptura, bahwa ketika dipakai istilah “Tradisi” adalah mengacu pada Tradisi (bentuk) Lisan, sedangkan utk Tradisi (bentuk) tertulis digunakan istilah “Alkitab/kitab suci”. Gereja Katolik sendiri dalam katekismusnya menggunakan istilah “Tradisi Rasuli/Tradisi Suci” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) Lisan tsb sedangkan utk Tradisi (bentuk) tertulis digunakan istilah “Kitab suci (Sacred scripture)” Jadi utk kepentingan praktis dalam berdiskusi, maka digunakan istilah “Tradisi” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) lisan dan istilah “Alkitab/Kitab suci” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) tertulis. Sekarang mari kita membahas masalah Sola Scriptura dgn membaca ayat Alkitab berikut :

    PEMBAHASAN

    2 Tes 2:15

    “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”

    “Therefore, brethren, stand fast, and hold the TRADITIONS which ye have been taught, whether by word, or our epistle.”

    “ara oun adelfoi sthkete kai krateite taV PARADOSEIV aV edidacqhte eite dia logou eite di epistolhV hmwn”

    Ayat ini berangkat dari realita bahwa pada mulanya ajaran Kristus yg disampaikan oleh para rasul adalah melalui pengajaran secara lisan. Sebelumnya, Kristuspun mengajar para murid2Nya secara lisan. Kristus bahkan tidak menghasilkan satu lembar kertaspun yg berisi tulisanNya. Kumpulan pengajaran2 dari para Rasul yg disampaikan secara lisan inilah yg disebut sebagai Tradisi (Tradisi Lisan). Kemudian beberapa dari ajaran2 dari para rasul tsb kemudian dituliskan kedalam bentuk tertulis (berupa surat2 dari rasul kpd suatu jemaat misalnya). Namun sayang, adalah tidak mungkin memasukan semua ajaran para rasul tsb kedalam bentuk tertulis. Yohanes menulis bhw masih banyak yang dikerjakan oleh Yesus yg tidak mungkin bila semuanya harus dicatat, dunia ini tidak akan mampu menampung kitab2 yg berisi semua ajaran Yesus tsb (Yoh 21:25). Sebagian yg tidak tertulis tetap berada dlm ajaran2 Tradisi (Tradisi Lisan). Oleh sebab itu Paulus menasehati agar kita berpegang teguh pada ajaran (Inggris : Traditions, Yunani : Paradosis) baik yg tertulis (yaitu Alkitab) maupun yg tidak tertulis (Tradisi/Tradisi Lisan). Dan dari konsep inilah Gereja (Katolik) mengenal dua sumber iman yaitu Alkitab (yg adalah merupakan Tradisi tertulis) dan Tradisi (Tradisi lisan). Baik Alkitab maupun Tradisi Rasuli keduanya berisi warisan ajaran iman dari para Rasul yg dipercayakan kpd Gereja. Gereja memelihara kebenaran iman dari dua sumber tsb dan keduanya diperlakukan sama oleh Gereja. Keduanya memiliki otoritas yg sama dan wajib diimani.Harap dibedakan antara Tradisi (Tradisi Lisan) (huruf ” T ” besar) dgn tradisi gerejawi (huruf ” t” kecil). Sepanjang suatu masalah menyangkut hal2 doktrinal maka ia termasuk dalam ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) sedangkan masalah2 seperti jenis liturgi, disiplin gerejawi, kegiatan ungkapan ekspresi iman adalah merupakan tradisi gerejawi. Bedanya Tradisi (Tradisi Lisan/Tradisi Rasuli) karena menyangkut doktrin kebenaran iman, maka ajaran dalam Tradisi (Tradisi Lisan) tidak dpt berubah (Irreformable dan Irrevocable), sedangkan tradisi gerejawi karena tidak menyangkut doktrin kebenaran iman, maka dapat diubah/berubah dan bahkan dimungkinkan suatu daerah memiliki tradisi gerejawi yg berbeda dgn daerah lain

    MASALAH OTORITAS TRADISI & KITAB SUCI

    Beberapa rekan protestan mungkin berkata bahwa mereka pada hakekatnya menerima Tradisi namun mereka tidak bisa menyamakan otoritas ajaran Tradisi sama & sejajar dgn otoritas Alkitab. Konsekuensi dari sikap ini adalah bahwa segenap pengajaran Tradisi harus dilihat sesuaikah dgn pengajaran Kitab Suci. Jadi kebenaran & penerimaan pengajaran Tradisi bergantung dari kesesuaian dgn kebenaran Kitab Suci. Otoritas Tradisi berada dibawah otoritas Kitab Suci.
    Bagaimana menanggapi pernyataan ini? Bahwa Gereja Katolik tidak masalah bila pengajaran Tradisi harus di cross check dgn pengajaran Kitab Suci. Keduanya pasti tidak mungkin saling bertentangan karena keduanya berasal dari sumber yg sama. Namun mari kita melihat pada proses kanonisasi…

    Bahwa ketika para Bapa Gereja melakukan kanonisasi, baik umat Katolik maupun protestan sama-sama mengimani akan adanya peran/inspirasi Roh Kudus. Namun bagaimana pada akhirnya para Bapa Gereja bisa menetapkan kitab A,B,C kanonik, kitab X,Y,Z tidak kanonik? Apakah para Bapa Gereja mendengar suara2 tertentu (sebagai bentuk manifestasi inspirasi Roh Kudus) yg memberitahu mereka mana kitab yg kanonik, mana yg tidak? TIDAK !!! Di depan tumpukan kitab2 yg ada, para Bapa Gereja akhirnya harus membaca kandungan pengajaran masing2 kitab tsb, apakah sesuai atau tidak. Sesuai - Tidak Sesuai dgn apa? Tentu saja dengan ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) yg mereka terima dari para Rasul. Agar lebih jelas berikut saya beri contoh :

    MISALKAN pada saat itu Tradisi mengajarkan bhw Kristus tidak disalib, melainkan yudaslah yg disalib, maka kitab2 yg berisi ajaran/kisah penyaliban Kristus akan dianggap tidak kanonik, sebaliknya kitab2 yg berisi ajaran/kisah penyelamatan Kristus dari peristiwa salib akan dianggap kanonik. NAMUN kenyataan berkata sebaliknya. Mengapa injil Barnabas akhirnya dinyatakan tidak kanonik? Karena Tradisi mengajarkan kpd para Bapa Gereja bhw Kristus benar2 disalibkan demi pengampunan dosa umat manusia. Sehingga injil Barnabas yg mengisahkan kisah penyelamatan Kristus dianggap tidak kanonik.

    MISALKAN pada saat itu Tradisi mengajarkan bhw Yesus hanya memiliki satu natur saja maka tentu kitab2 yg mengajarkan dwinatur Kristus akan dianggap tidak kanonik, sebaliknya kitab2 gnostik akan dianggap kanonik. NAMUN sekali lagi kenyataan berkata sebaliknya. Karena Tradisi mengajarkan keilahian & kemanusiaan (dwinatur) Kristus, maka injil/kitab gnostik-lah yg kemudian dianggap tidak kanonik.

    Peran inspirasi Roh Kudus disini adalah mengingatkan para Bapa Gereja akan ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) yg mereka terima dari para Rasul. Menyadari bagaiama proses kanonisasi inilah, maka jelas Gereja (Katolik) tidak mungkin dapat berposisi utk menerima sola scriptura dimana ajaran Tradisi otoritasnya diletakan berada dibawah (subordinat) dari otoritas Kitab Suci. Apakah kalau begitu Gereja Katolik meletakan otoritas Tradisi diatas otoritas Alkitab? Tidak. Gereja meletakannya keduanya sama otoritatifnya sebab keduanya berasal dari sumber Ilahi yg sama namun yg berbeda dalam moda transmisi penyampaiannya. Oleh karenanya keduanya tidak mungkin saling bertentangan (kontradiksi).

    Dalam Sola Scriptura terkadang ada yg mengemukakan prinsip bhw otoritas Gereja harus berada dibawah otoritas Alkitab. Ini juga sulit diterima oleh Gereja Katolik mengingat proses kanonisasi dan penetapan daftar kanon adalah oleh Gereja. Otoritas Gerejalah yg menetapkan daftar kanon kitab suci. Namun itu tidak berarti Gereja dpt bertindak seenaknya. Gereja menyatakan dirinya sbg pelayan Firman Tuhan baik yg ada dlm Alkitab maupun dlm Tradisi (Tradisi Lisan). Otoritas Gereja diwujudkan dlm penafsiran kitab suci & ajaran Tradisi.

    Kemudian ada yg mungkin keberatan dgn mengatakan bahwa Tradisi sebagai ajaran yg disampaikan scr lisan bisa berbahaya karena bisa diubah-ubah ibarat permaianan membisikan suatu kalimat dari org pertama hingga org kesepuluh. Well ini masalah pada otoritas mana yg dipercaya. Apakah yg tertulis (Alkitab/Kitab Suci) juga tidak bisa disangsikan? Tentu sangat bisa. Gampang saja : Tau darimana surat Roma adalah surat tulisan Paulus?Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Paulus. Tau darimana surat Petrus adalah surat yg ditulis oleh Petrus? Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Petrus. Bukankah sudah diketahui bahwa aliran bidat sering meminjam nama para Rasul atau murid Para Rasul utk menamai kitab tulisan mereka? Kita sbg umat HANYA bisa percaya kepada Gereja yg mewartakan keotentikan surat2 tsb sbg benar2 tulisan dari para Rasul atau murid para Rasul. Demikian juga thd ajaran Tradisi yg diwartakan Gereja, umat Katolik mempercayai bahwa ajaran Tradisi tsb adalah ajaran otentik dari para Rasul.

    Dilanjutkan dengan menanggapi tulisan sdr. Sandpiper utk masalah2 yg tidak ada pada tulisan diatas.

    Salam

    (Bobfel2004@yahoo.com)

Leave a Reply