refleksi di bawah merupakan salinan posting saya di milis ficanet, ketika berdiskusi keras dengan seseorang yang menempatkan saya pada serentetan penghakiman yang amat lazim saya alami: joas liberal, sesat, antikristus dan sebagainya. posting respon saya telah saya edit untuk menghilangkan konteks kemunculannya.
j.a.
The Hybrid Joas
ada banyak orang yang terlalu suka memakai binary thinking, seolah2 hanya ada dua kemungkinan: injili dan sisanya. inerrantists dan sisanya (padahal varian terlalu banyak). saya menolak cara berpikir itu dan meyakini bahwa
selalu saja ada inner-diversity dalam diri setiap teolog yang (berusaha untuk) mature.
jadi apakah saya liberal, postliberal, atau injili? ini jawaban saya: ketiga2nya, bukan ketiga2nya, sekaligus ketiga2nya, sekaligus lebih dari ketiganya, sekaligus kurang dari ketiganya. lho? kok gitu? (mereka yg memakai binary thinking akan langsung mendapat celah untuk menyerang apa yg mereka sebut inkonsistensi–yg akan saya jelaskan di bawah).
hidup berteologi (dan semua orang kristen adalah teolog - by definition!) adalah sebuah pengembaraan yang kompleks dan melelahkan. laksana kembara di hutan dengan biodiversity yang sangat-sangat kaya dan kompleks.
ia juga bagai menghadiri pesta maha-besar dengan anekarupa masakan. anda bisa hanya mengambil nasi putih dan krupuk, atau menikmati serbaneka masakan yg tersaji. ada beberapa kemungkinan:
A. HANYA NASI-KRUPUK
1. andi hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa masakan lain tak enak.
2. biduk hanya mengambil nasi dan krupuk tapi tidak mengatakan bahwa masakan lain tak enak.
3. charlie hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa masakan lain enak, tapi tak berani mengambilnya, karena tak pernah.
4. duma hanya mengambil nasi dan krupuk dan mengatakan bahwa nasi-krupuk cukup dan bahwa mengambil masakan lain bisa berarti makan berlebihan.
B. TAK-HANYA-NASI-KRUPUK
5. eko mengambil semua makanan yang ada dan menikmati semuanya.
sementara ada banyak orang yang tampak mengambil peran andi, saya memilih peran eko. lho, bukankah eko rakus dan andi tak rakus? belum tentu! amat mungkin andi makan nasi-krupuk dalam jumlah berlebihan dan amat mungkin eko makan seluruh jenis makanan secukupnya. poinnya bukan soal jumlah, namun soal merayakan pesta yang diselengarakan tuan rumah. dan saya memilih menghargai tuan rumah dengan menyantap seluruh jenis makanan yg tersaji.
saya memilih menghargai kristus, pemilik gereja kristus, dengan menghargai seluruh tradisi yang hadir di dalamnya. saya memilih memberi atensi yang sama terhadap seluruh anggota tubuh (kristus), tinimbang tak menjaga kesehatan anggota tubuh lain dan sibuk asyik-mashyuk dengan urusan jerawat di pipinya saja. saya memilih untuk mulai dengan 2 potong sushi dengan sedikit wasabi dicampur sauce, dilanjutkan kungpao chicken secuil, lalu nasi liwet seadanya, dst dsb …
lalu apa teologi saya? saya seorang liberal? YA! saya seorang postliberal? YA! saya seorang injili? YA!
+ ketika berurusan dengan penghargaan pada kemanusiaan, saya seorang liberal (sekalipun sedang memperhatikan dengan seksama suara2 komunitarianisme).
+ saya seorang postliberal, dalam hal pentingnya menjadi identitas kristiani.
+ saya seorang barthian dalam menghargai kristus lebih dari alkitab.
+ dalam hal pneumatologi, saya lebih dekat dengan teologi ortodoks-timur.
+ dalam hal tritunggal, pengaruh bapa2 kapadokia amat kuat buat saya.
+ dalam hal doktrin penciptaan saya terombang-ambing antara neville dan moltmann.
+ dalam hal teologi agama-agama, saya seorang singularis-trinitarian.
+ dalam hal doktrin penebusan, saya penganut christus-victor theory dan makin senang dengan girard dan heim.
+ dalam hal relasi-antar-gereja, saya jelas seorang ekumenikal.
+ dalam urusan eskatologi, saya suka dengan this-worldly model.
+ saya juga suka dengan tema graced-nature rahner dan katolik.
++++ dan seratus satu tema lain.
di pihak lain, cara pandangnya bisa diubah: apa yang saya TAK suka. dan saya bisa masuk pada seratus satu daftar berikutnya. misalnya: saya menolak ineransi dari injili, saya menolak hidden-foundationalism dari teolog liberal dan minimnya penghargaan pada wahyu ilahi. dll dst dsb …
dan di antara kedua titik-ujung ini tentu ada gradasi sikap: tertarik pada sesuatu, curiga pada yg lain, netral pada satunya lagi, dst. thus, saya seorang teolog hybrid. dan di atas segalanya, saya seorang kristen yang mengasihi allah, a beloved son of god! sikap yg sama agaknya ditunjukkan oleh brian mclaren, seorang injili dari kalangan emergent church. judul bukunya menarik:
jadi itu posisi saya. positionless position. ekstrim tengah. berusaha meyakini bahwa kompromi (Lt: co+promise) teologi adalah kebajikan tertinggi dalam teologi sekaligus tapak berbahaya yg harus diriskir. yang tak lagi menonton televisi B/W, namun belum mampu beli TV high-definition. yg kritis pada reformed-injili namun suka datang ke ibadah mereka. yang bergereja dan menjadi pendeta gki, namun kritis terhadap banyak hal dari gki.
btw, jika anda bertanya pada saya setahun lagi, siapa saya … daftar di atas tentu akan berubah. karena teologi sangat joyful sekaligus dinamis. sebagian aspek akan bertahan dan malah makin kuat. sebagian lagi akan saya tinggalkan dan saya kritisi. insya allah … semua proses membuat saya makin injili sekaligus makin liberal, makin katolik dan makin protestan, makin kristen sekaligus makin humanis.
o, ya, satu lagi: saya sangat meyakini bahwa doktrin apa pun tidak menyelamatkan. hanya kristus yg menyelamatkan.
Powered by ScribeFire.

November 17th, 2007 at 8:57 pm - Edit
menggugah sekaligus menyentil. saya setuju dgn pak joas. liberal bukan berarti kebablasan, namun dinamis - dinamis untuk bertumbuh. sama seperti Kristus yg berdinamika untuk menyelamatkan kita - Ia tidak kaku.
December 9th, 2007 at 8:37 am - Edit
Ditengah-tengah kehidupan berteologi yang serba atau A atau B atau C, Pak (semoga saya tidak disuruh minta maaf lagi) Joas memberikan alternatif yang lebih mengena. kenapa tidak ambil sedikit A, sedikit B, dan sedikit C sesuai porsinya masing-masing? Dengan begini kehidupan berteologi tidak akan pernah kering dan pencarian kebenaran tidak akan pernah berhenti pada satu titik.
dsimanjuntak
December 9th, 2007 at 10:48 pm - Edit
wah….dalem amat nih hehehe…..saya ga ngerti mas, tapi saya pikir, memang seseorang tidak bisa kaku di satu titik, tp harus mengambil hal2 yang baik dan diterapkan, mungkin hal yang sama bisa diterapkan dalam teology (?)
December 18th, 2007 at 4:51 am - Edit
Salam Damai dalam Yesus!
Apa kabar Pak Joas? (Hope u’ll have a nice X’mas Eve there!!)
Saya RICHEL,
Mahasiswa Teologi UKDW YOGYA,Sinode GKI Jawa Tengah…Saat ini sedang menyusun Skripsi -setelah tertunda2 sekian lama-).
Ikut “nimbrung” di BLOG Pak Joas, terus terang baru sekarang…isinya MENARIK juga..!
Untuk saat ini saya tidak ‘comments’ trhadap ‘Hybrid of Joas’…tapi saya malah mau bertanya (karna bingung juga nih kalau mau tanya lewat kolom sebelah mana…).
Pak, sebetulnya ada atau tidak sih pengaruh dari Gerakan Oikumene (Global) terhadap Gerakan Fundamentalisme Kekristenan di Amerika Serikat
(konteks tahun 1950-an, keduanya khan momentumnya hampir bersamaan).
Seperti kita tahu bahwa Gerakan Oikumene mengupayakan keterbukaan, kerjasama, dialog antara denominasi Kekristenan, antara pemeluk agama berlainan bahkan di antara ‘ALL CREATURES’…
Sedangkan Gerakan Fundamentalisme Kekristenan di Amerika pada saat itu cenderung untuk bersikap tertutup, anti kerjasama dan dialog….
Kalau memang ada literatur/referensi yang membahas ‘komplit’ tentang hal itu…
Please Pak Joas berkenan untuk ’send an e-mail ke saya :
r1ch3l@yahoo.com
THANX a LOT!
April 9th, 2008 at 7:02 am - Edit
Bagus … bagus … dan bagus!
DZ
April 21st, 2008 at 10:49 pm - Edit
Terima Kasih Pak, ini pencerahan buat saya..
Saya mungkin bisa dikategorikan ekumenis. Saya sendiri anggota GKI yang meyakini (atau setidaknya berusaha untuk..) dan mengerti misteri Ilahi yang positif: mengapa seolah gereja itu terpecah-pecah. Mengapa Katolik merasa benar dan mengapa Protestan merasa tidah kalah benarnya. Mengapa gereja Kristen A harus berpisah dari B. Mengapa dengan pertimbangan Teologi tertentu, si A pindah ke gereja B. Dst…
Menarik menyinggung point yang bapak kemukakan mengenai ’spiritual endeavour’..unfinished Christian…perjalanan yang melelahkan. Saya kira sepanjang kita hidup, Kebenaran (Truth) itu akan senantiasa berbicara ke kita…The X-Files is right after all: The Truth is out there… Alkitab itu benar, tapi jika tanpa dihadapkan pada realitas di luar sana kita tidak akan menemukan kebenaran itu sama sekali. Dan satu hal.. saya kira man cannot always handle such Truth.. terkadang Kebenaran itu MASSIVE sekali…susah dicerna..dan butuh bertahun-tahun doa dan perenungan untuk bisa mengerti. Saya kira ini manusiawi sekali..makanya kita butuh Kristus..pertolongan Allah.
Kembali ke dunia di luar sana. Kenyataannya tidak banyak orang Kristen yang mau dan rela demokratis seperti bapak. Apa yang tampak di permukaan dimana seolah-olah gereja A benar karena memang sesuai dengan Alkitab, tidaklah lebih dari klaim arogan dimana anugerah keselamatan yang menjadi inti gereja malah menjadi komoditas untuk melayakan interpretasi injil yang tertutup, sangat inward looking, ignorrant dan self-centered…dan ujung2nya malah menjadi bensin untuk api yang kini meredup namun telah menyala sejak hari pertama gereja mulai terpecah-belah secara fisik..
Ah saya masih pusing…
July 1st, 2008 at 11:51 am - Edit
Beta senang dengan ‘gaya’ Bung Yoas yang ‘melintas’. Inikah wajah Teologi Protestan kita di Indonesia hari ini. Mungkin ini rute yang harus kita susuri, meski agak melingkar, tapi kalau kita sabar dan tekun, pasti ada temuan-temuan yang original dan kreatif. Beta setuju dengan ‘nubuat’ Pak Eka Darmaputera, bahwa Bung Yoas dan Bung Martin Sinaga dan tentu ada lain yang nyusul adalah teolog-teolog yang menjanjikan. Semoga tetap progres dan memberi warna serta arah bagi Teologi Protestan di Indonesia yang sepeti sedang kehilangan arah. Jabat erat dari Beta, rudy rahabeat di fajar Timur Indonesia, Tanah Maluku.
August 27th, 2008 at 5:20 pm - Edit
Halo kak.. lama gak mampir ke ruang tulisan kakak nih.. hheehhe.. hm.. iya sih… beberapa tahun yang lalu aku juga mulai melihat diriku sebagai campuran dari berbagai tradisi dan pemikiran teologi yang pernah ada, beberapa di antaranya ada di sebuah ujung dari sebuah polarisasi, ada yang berada di tengah-tengah :D.. untung dulu Filsafat Timur aku diajar kakak.. jadi kini punya sedikit keberanian untuk menerima berbagai campuran sebagai yang inheren dalam diriku sekaligus berani melihat kemungkinan bahwa ke depan campuran tersebut pun mengalami perubahan.. hehehe…