Mazmur 8
Mazmur 8 ini diawali dan diakhiri dengan puji-pujian yang sama: Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi.” Kita terlalu biasa mendengar orang berkata, “demi kemuliaan Allah.” Doa-doa kita juga kerap latah memakai kalimat, “…demi kemuliaan Allah.” Apa artinya saudara-saudara? Apa artinya “demi kemuliaan Allah?”
Izinkan saya mengajukan dua kritik terhadap kelatahan kita itu.
- Kita terlalu biasa memakai kalimat “demi kemuliaan Tuhan” dalam doa, nyanyian dan ibadah kita. Kita membatasi arti “kemuliaan Tuhan” hanya dalam ibadah-ibadah kita. Seolah-olah hanya dengan doa, nyanyian dan ibadah kita bisa memuliakan Tuhan. Soalnya justru pada kehidupan setiap hari. Apakah masih ada artinya “kemuliaan Tuhan” ketika ibu memasak, anak bersekolah dan bapak bekerja?
- Kita sering punya salah konsep bahwa kemuliaan Tuhan berarti bahwa Tuhan suka dengan puji-pujian kita. Hati-hati, saudara, jangan-jangan, tanpa sadar, kita memandang Tuhan sebagai Allah yang haus pujian, butuh pujian, ingin dipuji. Seorang berkata, konsep kemuliaan Allah dalam kekristenan sudah menjadikan Allah sebagai Tuhan yang egosentris. Seolah-olah Tuhan memakai manusia untuk memuliakan diriNya. Allah tak butuh itu.
Saya akan pakai ilustrasi ini.
Pak Anton seorang yang kaya dan baik hati. Ia melihat Lusi tidak memiliki biaya untuk meneruskan kuliah. Lalu Pak Anton membiayainya. Setelah selesai, Lusi bekerja dan sukses. Apakah Lusi “wajib” dan “harus” memuji Pak Anton? Ya! Tapi apakah itu berarti Pak Anton membantu Lusi karena ingin dipuji? Tentu saja tidak. Itu kesimpulan yang tidak logis, salah dari segi hukum logika.
Allah itu baik dan kita memuliakan Tuhan karena kebaikanNya. Tapi tidak berarti Allah baik agar kita memuliakan Dia. Itu salah besar. Allah sungguh sempurna, hingga tak perlu segala pujian kita. Tanpa puji-pujian kita, Allah pada hakikatNya memang mulia.
Kalau begitu apa arti paling hakiki dari kalimat “demi kemuliaan Allah?” Mari kita lihat Mazmur 8 ini. Kalimat “betapa mulianya namaMu di seluruh bumi” ada pada ayat 2 dan 10. Di antaranya ada 7 ayat yang berbicara tentang siapa manusia sebenarnya. Pada intinya ada dua bagian penting.
Bagian 1, ayat 3-5, menceritakan keberadaan manusia yang demikian kecil dan hina. Dibanding semesta yang begitu luas, manusia sungguh tak ada artinya. Saya sering memikirkan bahwa semesta ini dibanding galaksi bimasakti kita seperti ruangan gereja ini dibanding sebuah titik kecil. Padahal, galaksi bima sakti kita dibanding dengan bumi kita ini sama seperti ruangan ini dibanding sebuah titik kecil. Padahal bumi kita ini dibanding Joas sama seperti ruangan ini dibanding sebuah titik kecil jadi, semesta ini, dibandingkan manusia, maka manusia ini titiknya titiknya titiknya semesta. Sungguh-sungguh kecil dan hina.
Jadi, ayat 3-5 ini ingin mengajar manusia untuk tahu diri.
Tahu dong kalau kita ini lemah, dibanding semua semesta ini, apalagi dinading pencipta semesta ini.
Bagian 2, yaitu ayat 6-9, berbicara lain. Meskipun manusia kecil dan hina, Tuhan mengingatnya dan mengasihinya. Jadi, kita diajak untuk punya harga diri. Tahu dong, kita ini, meskipun hina, sungguh dihargai Allah.
Perpaduan antara sikap tahu diri dan harga diri inilah yang membuat manusia bisa melihat diri sebagai gambar dan rupa Allah, citra Allah. Kalau cuma tahu diri (tahu kita ini lemah), tanpa diimbangi dengan sikap harga diri (tahu kita ini dihargai Allah, maka manusia akan selalu minder, tak bisa menghargai hidup ini.
Sebaliknya sikap harga diri tanpa diimbangi sikap tahu diri, hanya membuat manusia sombong dan congkak. Dan karena itu bisa meremehkan sesama.
Karena itu hati-hati dengan sikap kita terhadap sesama. Ketika Anda menghina sesama Anda, melecehkan mereka, merugikan mereka. Anda sedang berurusan dengan Allah, Pencipta sesama kita. Kita sedang merendahkan kemuliaan Allah.
Ketika Anda hidup serampangan, merusak kehidupan Anda, merendahkan martabat Anda. Anda sedang berurusan dengan Allah. Kita sedang merendahkan kemuliaan Allah.
Dengan kata lain, perpaduan sikap tahu diri dan bangga diri ini mengajar manusia untuk melihat diri sebagai manusia yang utuh dan benar-benar manusiawi. Apa artinya kalau dalam Kejadian 2 dikatakan manusia itu gambar Allah? Artinya, manusia sungguh berarti kalau Ia hidup secara manusiawi. Dan itulah kemuliaan Allah.
Jadi, Kita punya dua kalimat sekarang. Satu: kemuliaan Tuhan. Dua: manusia yang manusiawi. Apa hubungannya? Saya ingin mengutip ucapa Ireneus pada abad pertama. Ia berkata: Gloria Dei, Homo vivens. Artinya: Allah dimuliakan ketika manusia hidup sebagai manusia. Maka kebalikannya, jika manusia tidak hidup sebagai manusia yang manusiawi, hidup sebagai gambar Allah, maka ia tidak memuliakan Allah.
Nah, sekarang kita melihat arti paling mendasar dari “kemuliaan Allah.” Jika kita tidak berusaha untuk hidup sebagai manusia sejati, maka kita tidak memuliakan Allah. Atau, jika kita membuat sesama kita hidup tidak sebagai manusia, atau, kita membuat kehidupan sesama tidak manusiawi, kita tidak memuliakan Allah.
Allah tak butuh dimuliakan. Tapi, Allah setuju untuk dimuliakan, hanya jika mereka yang memuliakan Tuhan berani hidup manusiawi dan membuat sesamanya bisa manusiawi hidupnya.
Hati-hati dengan lagu-lagu pujian kita, yang penuh dengan kalimat “kemuliaan Allah.” NKB 6, 7, 16. KJ 2, 4, 5, 6, 7, 13 dsb. Kita akan lelah mendaftar lagu-lagu yang mengajak kita memuliakan Allah. Lagu-lagu itu bagus dan kita diminta menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Namun lagu itu bisa juga menjadi sarana kita untuk meremehkan kemuliaan Allah, ketika, pada saat yang sama, kita memperlakukan PRT kita semena-mena, kita merendahkan isteri dan anak kita. Atau kita sendiri hidup tidak sebagai manusia yang sebenarnya.
Gloria Dei, homo vivens. Kemuliaan Allah hanya bisa diakui ketika kita memperjuangkan kehidupan manusia agar manusiawi.

May 2nd, 2008 at 12:37 am - Edit
Terimakasih atas kesimpulan Bapak/Saudara tentang Subjek ini
Bagi saya untuk Kemuliaan Allah mempunyai suatu pengertian yang sangat khusus terutama ketika mengucapkannya karena untuk memuji Nama Allah berarti kita sudah mengkategorikan Dialah yang berada diatas segala-galanya tidak ada lagi yang yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk membantu manusia didalam mengisi kehidupanya di bumi ini untuk itu semestinya itu berarti setiap kali kita mendapatkan suatu kekuatan maupun rezeki berarti kita patut memuji Allah lah yang memberikan kepada kita manusia bukan dari mana lagi kita mendapatkannya itu.Shingga kita patut memberikan pujian padaNya.Amin