Warning: copy() [function.copy]: Filename cannot be empty in /home4/icfbosto/public_html/joas/wp-content/plugins/mytube/mytube.php on line 220
Kotbah Paskah Subuh 2002
Yohanes 20:11-18
SATU
Tema Masa Paskah kita adalah “Perjumpaan dengan Yesus.” Selama enam minggu kita melihat bagaimana Yesus berjumpa -atau tepatnya menjumpai- banyak orang di sekeliling-Nya. Perjumpaan dengan Nikodemus, Perempuan Samaria, Maria-Marta, Kayafas, Orang yang terlahir buta serta Yakobus-Yohanes.
Apa yang sama dari semua perjumpaan itu, yang pertama, adalah bahwa Yesus menjumpai mereka secara pribadi. Inisiatif mulai dari Allah dan mengundang jawaban manusia. Inilah intipati iman kristen. Manusia tidak mungkin menjumpai Allah kecuali jika Allah yang pertama-tama menjumpai manusia. Perjumpaan itu bukan seperti perjumpaan di tempat-tempat publik, di “meeting point” di mana dua orang berjanji bertemu. Tidak. Perjumpaan dengan Yesus adalah perjumpaan yang asimetris, tidak seimbang, karena inisiatif selalu datang dari satu pihak: Yesus. Baru kemudian muncul respon dari manusia.
Yesus yang sama menjumpai Anda. Jika Anda selama ini bergumul mencari Allah, percayalah, kita tidak akan bertemu dengan-Nya. Kecuali, jika Allah dalam Yesus yang pertama-tama menjumpai kita. Kesalahpahaman kita selama ini adalah menyangka bahwa Allah atau Yesus belum menjumpai kita. Ini keliru. Di atas salib itulah Allah menjumpai semua manusia, bersama-sama sekaligus secara personal. Hanya saja, kita mugkin terlalu sibuk dengan diri kita, terlalu sibuk dengan tangisan kita, seperti yang terjadi dalam diri Maria. Atau juga, kita tidak menyangka bahwa Yesus menjumpai kita dengan cara yang lain. Kita membuat patokan bahwa jika Allah menjumpai kita, tentu harus melalui cara-cara yang ajaib, supranatural dan menghebohkan. Ia menjumpai kita secara unik dan kadang tak terduga. Bahkan, di sebuah kisah Injil, dikatakan bagaimana Ia menjumpai kita melalui sesama kita, yang lapar, haus, telanjang dan terpenjara. Dan kita tidak mengenali-Nya.
Yang kedua, Yesus selalu menjumpai manusia dalam keunikannya masing-masing. Yesus menjumpai setiap orang dalam kelebihannya dan dalam kelemahannya. Ia berbicara secara teologis dengan Nikodemus, karena Nikodemus seorang teolog. Ia menghargai Maria dan Marta yang berbeda karakternya. Yang satu pendengar Firman, yang lain pelaku firman. Ia menjumpai seorang buta dalam persoalan yang dipikul selama belasan tahun. Ia menjumpai Anda dan saya dalam keunikan kita masing-masing. Menjumpai Anda dan saya dengan menyebut nama kita.
Yang ketiga, Yesus yang menjumpai kita mengundang respon kita. Apapun respon itu. Nikodemus, orang yang buta sejak lahirnya, Maria Magdalena meresponnya dengan positif. Kayafas sebaliknya, mereposnnya dengan negatif. Perjumpaan dengan Yesus adalah moment of truth, karena kita tidak bisa bersikap abstain. Hanya bisa kita memilih entah ya entah tidak.
Dan yang terakhir, keempat, perjumpaan dengan Yesus melibatkan sebuah proses tolehan, berpaling, berbalik. Dari fokus pada hal-hal lain menuju fokus pada Dia. Dan inilah yang secara tersurat muncul dalam kisah penampakan Yesus ada Maria Magdalena. Dan untuk itu mari kita memasuki pada kisah ini.
DUA
Pagi ini, teks Paskah kita berbicara tentang Maria Magdalena yang menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus. Kita bisa mendekati teks ini dengan meihat isi hati Maria melalui bahasa tubuhnya … melalui ekspresi fisiknya.
Tahukah anda betapa pentingnya mengenal isi hati seseorang dari bahasa tubuhnya. Ini bentuk komunikasi paling universal dan paling kuno. Saya dan bekas pacar saya juga punya kisah tentang bahasa tubuh ini. Ketika dulu kami pacaran, setahun kemudia saya harus pindah ke Jakarta untuk studi. Kali pertama saya berkunjung ke Yogyakarta, setelah beberapa bulan tidak bertemu, merupakan saat-saat yang mendebarkan hati. Saya sudah membayangkan bagaimana sambutannya. Saya bayangkan seperti di film-film roman. Dia akan tampak antusias, berbunga-bunga, mungkin dengan cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri). Pokoknya heboh. Hari itu ketika saya berkunjung … eh ternyata biasa saja tuh. Senyum tapi tidak seheboh yang saya bayangkan. Padahal itu hari ulang tahunnya. Saya sengaja mencoba romantis, membawa sekuntum bunga anggrek. Yah, ternyata sambutannya biasa-biasa saja. Kecewa. Oh, ya, bekas pacar saya ini sekarang sudah jadi isteri saya. Dan setelah menikah ternyata lain. Luar biasa … lebih dahsyat dari yang saya bayangkan.
Ternyata memang ada orang yang ekspresif, menunjukkan isi hatinya secara blak-blakan dan ada yang sebaliknya, seperti tanpa ekspresi walaupun hatinya meledak-ledak.
TIGA
Kisah ini dimulai dengan kata “tetapi …” Mengapa tetapi? Ayat sebelumnya (ay. 8-10) dikatakan bahwa dua murid melihat kubur Yesus yang sudah kosong dan mereka percaya. Bukan percaya bahwa Yesus telah bangkit, tapi percaya bahwa memang jasad Yesus sudah diambil orang. Mereka sedih? Tentu. Tapi mereka juga rasional. Tak ada yang bisa dilakukan lagi. Yang terjadi terjadilah. Entah kubur Yesus masih utuh atau jasad Yesus sudah diambil orang, tidak berarti banyak. Yesus masih mati. Maka mereka pulang ke rumah. Mau apa lagi?
Tetapi … Maria berbeda. Dia tidak pulang ke rumah. Lihat bahasa tubuhnya. Ia “berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu.” Saya tidak mampu melukiskan isi hati Maria. Campuran antara kesedihan dan karena itu menangis, ketidakrelaan karena raibnya tubuh Yesus, rasa tidak percaya, sampai ia mencoba menjenguk dan melihat sekali lagi. Namun, apapun perasaan Maria, saya yakin pada lapis terdalam … hatinya penuh dengan cinta. Cinta yang menyakitkan, cinta yang melukai. Hati dan pikirannya dipenuhi oleh sosok Yesus. Yesus yang mati!
Itu sebabnya ketika Yesus menampakkan diri … Maria tidak mengenalinya. Amat menarik di sini ada bahasa tubuh yang kedua: menoleh atau berpaling. Dua kali dikatakan Maria menoleh atau berpaling. Yang pertama, dalam keadaan menangis sedih (ay. 14) Maria menoleh. Tangisannya membuat dia tidak sadar bahwa yang dilihatnya adalah Yesus. Disangkanya orang itu adalah penunggu taman. Ini tolehan yang pertama. Tolehan ke arah kubur, ke arah kematian. Tolehan kasih yang terluka. Kalaupun dalam tolehan pertama ini harapan, namun harapan yang sempit, hanya harapan bahwa ia bisa menemukan Yesus yang mati.
Ini tolehan yang paling banyak muncul di dunia, di dalam kehidupan begitu banyak orang. Menoleh, mencari Allah yang benar, namun tidak mengenali-Nya. Tolehan yang tidak mengubah kehidupan secara radikal, karena fokus hidup masih pada tangisan, keputusasaan dan kesedihan dan nasib diri sendiri. Saya menyebutnya “Tolehan Salib.”
Tolehan jenis ini ada manfaatnya juga, ketika kita juga melihat kesedihan dan keputusasaan orang lain. “Ikut menangis bersama dengan orang yang menangis.” Solidaritas semacam ini mutlak dibutuhkan oleh orang-orang yang terlibat dalam penderitaan orang lain, membela hak orang lain, berjuang demi martabat sesama. Namun solidaritas ini saja tidak banyak berguna, karena tidak memberi pengharapan.
Akan tetapi kemudian dicatat tolehan yang kedua, ayat 16. Dan tolehan kedua ini muncul karena Yesus yang bangkit itu menyapa Maria dengan nama-Nya. Maria, Miriam, Maryam atau Mara berarti kepahitan dan penderitaan. Hidupnya memang dipenuhi kepahitan. Sebelum berjumpa dengan Yesus, ia terikat oleh tujuh roh jahat. Setelah lebih-kurang dua tahun masa kebahagiaan bersama Yesus, Rabi yang membebaskannya kini mati. Dia kembali ke dalam kepahitan hidup.
Tetapi kini namanya disebut. Dan ia tahu tak seorang menyebut dia sehalus dan selembut itu selain Yesus, Tuhan dan Pembebasnya. Tuhan selalu menyebut kita dengan nama kita. Yesaya 43:1 mengatakan, “Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” Menyebut nama adalah tindakan kasih, penghargaan dan penerimaan. Maria disebut namanya. Ia dikasihi, dihargai dan diterima sebagai sahabat Yesus.
Karena itu di ayat 16 disebutkan tolehan Maria yang kedua. Tolehan pengharapan. Tolehan luka yang disembuhkan. Bukan lagi tolehan ke arah kubur, namun tolehan ke arah Sang Kehidupan. Karena itu Maria merespon sapaan Yesus dengan sapaan yang juga personal, dengan memakai bahasa Ibunya, bahasa Ibrani, “Rabuni, Guru.” Terjadi perjumpaan yang amat-amat pribadi. Saya menamakannya “Tolehan Paskah” atau “Tolehan Kubur Kosong.”
Sebenarnya muncul tolehan yang ketiga, yang terakhir, yang saya namakan “Tolehan Misi.” Yesus mengutus Maria, menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya. Pada ayat 18 kemudian dikatakan, Maria pergi, meninggalkan Yesus dan menyaksikan kebangkitan, “Aku telah melihat Tuhan.” Tanpa tolehan terakhir ini iman pada Kristus yang bangkit hanya menjadi iman yang egois, iman yang individualistik, iman yang tidak berbuah.
EMPAT
Kata menoleh atau berpaling ini (dalam bahasa Yunani: “strepho“) adalah kata yang penting dalam Alkitab. Pertama menunjukkan gerakan fisik. Tapi yang kedua juga menunjukkan gerakan hidup. Ada perubahan radikal berbalik dalam semua dimensi hidup. Tolehan fisik Maria ini sebenarnya menunjukkan pembalikan hidup Maria. 1 Tes 1:9 menunjukkan makna radikal dari “strepho” ini, “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik (strepho) dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar,”
Berpaling atau menoleh bukan hanya bergeser atau berbelok. Tapi berbalik 180 derajat. Sebuah gerakan “U Turn”. Sebuah transformasi hidup. Dan itulah Paskah.
Saudaraku, Paskah berarti bahwa Allah menoleh dan berpaling pada Anda secara pribadi maupun bagi seluruh dunia ini. Ia merindukan tolehan kita, karena Ia sudah menyapa kita dengan nama kita. Tolehan apa yang kita lakukan untuk menjawab berita Paskah ini? Tolehan kesedihan dan keputusasaan atau tolehan kebangkitan dan sukacita? Kenali Yesus yang bangkit itu. Tak perlu lagi Yesus disalibkan, agar kita mengulang peristiwa tolehan Maria ini. Ia mati dan bangkita sekali untuk selama-lamanya. Sekarang saatnya bagi kita untuk brsedia dijumpai oleh Yesus. Berpalinglah lewat tolehan yang penuh harapan dan sukacita.
Dan lebih dari itu, jangan jadikan kekristenan kita menjadi agama egois. Saatnya bagi kita juga untuk menoleh pada sesama kita. Tidak lagi asyik-masyuk dengan urusan kita sendiri. Entah urusan iman atau urusan perut kita sendiri. Keduanya sama-sama egois. Jika tidak dibarengi dengan tolehan kepada sesama. Karena di sanalah sekali lagi kita jumpai Kristus yang bangkit. Amin.

June 10th, 2007 at 10:35 pm - Edit
joas,
saya suka dengan khotbah-mu ini. menggetarkan. anda mampu merumuskannya pada sebuah kata kunci: toleh. kuat sekali.
salam,
muna
June 8th, 2009 at 12:31 pm - Edit
Khotbah yang hidup, teologi yang solid, dan panggilan yang “nyaring”…tapi alegoris!