Di tengah kebuntuan menulis prospectus disertasi, saya menyempatkan diri membaca sekilas buku mungil Edward C. Zaragoza, No Longer Servants, But Friends: A Theology of Ordained Ministry (Abingdon Press, 1999). Zaragoza melandaskan pemahamannya perihal karya mereka yang ditahbis dari ucapan Yesus di Yohanes 15:15, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba … tetapi Aku menyebut kamu sahabat …” Ia mengritik konsep pelayanan (servanthood) dan kepemimpinan yang melayani (servant leadership) yang menurutnya tak lagi memadai untuk kehidupan gereja modern. Ada beberapa alasan yang dipakainya. Pertama, model “pelayanan” memunculkan persoalan Kristologis, karena model ini baru bisa bermakna ketika kita “meneladani” Kristus sebagai manusia yang baik; namun, ketika kita melihat perendahan diri Kristus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia, maka tak ada manusia yang mampu meneladaninya. Kedua, model ini terlalu memberi tekanan pada para pelayan dan bukan pada gereja secara keseluruhan. Ketiga, Zaragoza juga memperlihatkan kritik dari teologi feminis atas model pelayanan yang mengandaikan adanya terlebih dahulu “self” yang secara voluntary direndahkan, sedangkan persoalan perempuan justru adalah “self” yang direndahkan secara involuntary.
Sebagai model alternatif, Zaragoza menawarkan model persahabatan sebagai model karya gerejawi masa kini. Selain bahwa model ini memperlihatkan kesetaraan para sahabat, pendasaran teologisnya diperoleh dari pemahaman bahwa manusia diciptakan dalam gambar Allah dan bahwa Allah Tritunggal itu sendiri mencerminkan persahabatan dan mengizinkan manusia untuk menikmati persahabatan di dalam komunitas trinitarian tersebut. Zaragoza lantas mengaplikasikan model persahabatan ini dalam beberapa aspek karya gerejawi, seperti karya pastoral, penahbisan, baptisan, dll.
Tentu saja tulisan Zaragoza pantas dibaca sebagai kritik atas kelatahan memakai term “pelayanan” dalam kehidupan gereja masa kini. Sekalipun buku ini ditulis khusus untuk memberi landasan teologis alternatif bagi mereka yang ditahbis, namun model persahabatan ini tentu juga bermakna bagi warga gereja secara keseluruhan. Justru model ini mampu menjembatani jurang antara “sahabat Kristus” yang profesional (pendeta) dan “sahabat Kristus” lainnya (warga gereja). Catatan lain yang menurut saya menjadi kelemahan buku ini adalah, bahwa sementara model persahabatan yang diajukan Zaragoza menawarkan model relasi I-and-Thou (Buber) yang setara, namun gagal melihat kelebihan model I-for-others yang bisa digali dari model “pelayanan.” Perendahan diri yang lazim dilihat sebagai kebajikan kristiani kini memiliki konotasi yang negatif. Di luar itu semua, buku ini pantas dijadikan bahan diskusi untuk siapa saja yang tertarik untuk mengimajinasikan kehidupan gerejawi pada masa kini secara lebih konstruktif.
