Berikut kutipan diskusi yang berlangsung di milis cyber-gki yang merambah ke masalah ortodoksi. Diedit untuk penyesuaian seperlunya.

ortodoksi buat saya lebih sebagai sebuah mekanisme bukan untuk membedakan dengan yg heterodoks, namun untuk menjaga praksis keseharian dan ritual kita berjalan dalam kesinambungan dengan masa silam (tradisi) dan tetap menjadi aktual di masa kini (relevansi) dan memberi kekuatan untuk memasuki misteri masa depan (ekspektasi). karena itu ortodoksi hanyalah hamba dari ortopraksis dan ortopietas. lex orandi, lex credendi (aturan ibadah menentukan aturan pengajaran==ortopietas menentukan ortodoksi), sekaligus lex sequendi, lex credendi (aturan mengikuti kristus menentukan aturan pengajaran==ortopraksis menentukan ortodoksi).

jadi, ortodoksi baru ada artinya jika dilokalisir dalam sebuah komunitas yg memiliki sistem maknanya masing-masing. mereka yang berbeda dengan kita (non-ortodoks) tidak harus dimaknai heterodoks, sejauh mereka yang berbeda itu tidak mendesakkan secara paksa ortodoksinya sendiri ke dalam ortodoksi kita. jika mereka melakukan, maka dengan tegas kita menyatakan itu heterodoks dan heretik. itu sebabnya dengan tegas saya mengatakan ineransi yg dipaksakan masuk ke gki … sebagai heretik. ia bisa saja ortodoks dalam sistem makna injili-fundamentalis. tapi tidak dalam sistem makna komunitas bernama gki.

sistem makna itu tidak harus lengkap dan komplet. cukup jika ia memberi makna bagi hidup yg otentik bagi pemakainya. malah, ia HARUS diakui tak pernah utuh dan komplit. dan itu sebabnya harus terjadi komunikasi dan interaksi tanpa-paksaan antara satu ortodoksi dengan ortodoksi lain. yang pada akhirnya bisa mengubah wajah ortodoksi sebuah komunitas tersebut. itu sebabnya ortodoksi selalu dinamis dan terbuka.

dalam hal ini saya tertarik dan simpatik dengan cara berpikir brian mclaren, seorang injili (bahkan dianggap satu dari “25 most influential evangelicals in america” oleh majalah Time). dia mengatakan bahwa ortodoksi itu selalu tak lengkap dan karena itu membutuhkan yg lain untuk makin lengkap. bukunya, generous orthodoxy, memiliki sub-title begitu panjang:

WHY I AM a missional + evangelical + post/protestant + liberal/conservative + mystical/poetic + biblical + charismatic/contemplative + fundamentalist/calvinist + anabaptist/anglican + methodist + catholic + green + incarnational + depressed-yet-hopeful + emergent + unfinished CHRISTIAN

betapa berbedanya cara berpikir mclaren dengan cara berpikir injili-fundamentalis di milis ini akhir-akhir ini … salah satu tulisan mclaren yg mungkin relevan juga dengan isu agama-agama lain berjudul: “If Christianity Is True, People I Love Will Burn in Hell”. lihat cara berpikirnya, yg sekalipun eksklusivis mampu memberi nuansa yg berbeda banyak kelompok injili-fundamentalis. jadinya, lagi-lagi ini memang bukan soal injili vs. ekumenikal, tapi soal fundamentalism vs. nonfundamentalisme. mclaren bisa disebut postfundamentalist evangelical as opposed to fundamentalist-evangelical.

yg menarik buat saya dari artikel mclaren ini adalah posisi akhirnya:

1. “if Jess becomes a universalist, at least she’ll still be a Christian. That’s better than her giving up her whole faith.” ini sendiri respon mengejutkan dari seorang injili, yang membuktikan diri injili yang post-fundamentalist.

tapi muncul dilema baru:

2. “But she won’t be able to be a member of Potomac Community Church.”

dan akhirnya keputusan yang diambilnya:

3. “If Jess isn’t welcome at PCC, I don’t want to be welcome either.”

inilah generous orthodoxy buat saya. tidak ada rasanya yg melarang orang untuk meyakini satu posisi. entah itu eksklusivisme atau pluralisme atau apapun … pasti kemudian si fundamentalis yg membaca ini akan berkata: “ya, tapi keluar saja dari gki.” masalahnya kemudian adalah apakah gki fundamentalis? kalau si tokoh dalam artikel mclaren menjadi anggota gki, maka dilema no. 2 tidak akan terjadi. sama seperti dilema tersebut tidak akan terjadi di gereja mclaren sendiri (cedar ridge community church, http://www.crcc.org — lih. bagian “Our Values”).

rasanya sub-title buku mclaren itu akan menggelisahkan seorang fundamentalis totok yg terbiasa menebar racun polaristik: liberal vs.injili dan memakai kerangka dikotomi ini untuk mengatakan: kami benar, yg lain sesat. ini racun berbahaya sekali. kalau saya melihat kembali arsip salah satu milis yang dibuat untuk menandingi cyber-gki, polarisasi ini begitu kentalnya, dan kemudian mulailah orang-orang tertentu distigmatisasi berdasarkan polarisasi tersebut, tentu dengan sudah terlebih dahulu memposisikan diri sebagai injili dan yg lain sebagai “liberal” …. tidak peduli bahwa ternyata yang lain itu bukan injili dan bukan liberal. mereka memperkosa kekayaan tradisi kristen yg multi-arus itu hanya ke dua arus hitam-putih: injili-liberal, yg bisa dibahasakan secara berbeda: benar-salah. kerangka polaristik itu sudah begitu menjadi berhala, hingga alkitab sekedar menjadi tukang pukul saja.

sudah saatnya gki menjalani terapi detoksifikasi terhadap racun ini.

One Response to “Perihal Ortodoksi”
  1. Jhoni says:

    Salam, Pak Joas,

    Kita ketemu di milis pustakalewi.

    Saya sudah baca link McLaren dari Pak Joas di atas. Tapi buat saya, agak aneh ketika mendapat pertanyaan dari anaknya, McLaren tidak menjawab dengan logika eksposisi dari Alkitab (atau kitab Roma), tapi malah menjawab secara melompat langsung ke inclusivism dan exclusivism.

    Alkitab punya logikanya sendiri untuk menjawab, dan seharusnya logika itu yang disampaikan McLaren kepada anaknya.

    Allah mengasihi manusia dan rindu bersekutu dengan kita –> manusia berdosa, upahnya maut, tidak bisa bersekutu dengan Allah –> Yesus datang untuk menyelesaikan masalah itu –> Yang percaya kepada Yesus menerima anugrah pengampunan dosa itu.
    Ceritakan itu dulu kepada anaknya.

    Seharusnya McLaren menjelaskan saja apa isi/logika Alkitab, biarkan orang-orang bergumul dengan apa yang dijelaskan Alkitab, bukannya kita langsung membuat kesimpulan akhir tentang inclusivism atau exclusivism tanpa orang-orang mengerti dasar logikanya mengapa Alkitab berkata seperti itu.
    Jelaskan juga: apakah Alkitab atau kekristenan punya dasar yang memang cukup kuat untuk dipercayai.
    Saya tertarik dengan cara R.C Sproul menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dalam bukunya kalau tidak salah: “Reason to Believe” atau “Now, That’s a Good Question”. RC Sproul, tokoh Reformed yang sangat menarik hati saya, menjelaskan dengan sangat baik.

    Di awal saya mengikut kekristenan, saya sendiri mengalami banyak pergumulan/kesulitan/masalah untuk memahami logika Alkitab, tapi saya menikmati sangat banyak dibukakan ketika sedikit demi sedikit, pemahaman demi pemahaman dibukakan, seiring berjalannya waktu.

    Oleh karena itu, menurut saya, McLaren belum menyelesaikan tugasnya untuk menghadapi permasalahan logika dalam Alkitab untuk bisa menyampaikan secara sederhana kepada anak beliau. Dan dengan kesimpulan itu, agak berat bagi saya McLaren membuat kesimpulan-kesimpulan lebih jauh, dan kemudian kesimpulan ini Pak Joas gunakan.

    Bagaimana pendapat Pak Joas?

    Salam,
    Jhoni Tuerah
    (saya sekarang sering bergereja di GKI Citra 1, tapi hanya pengunjung, belum jadi jemaat)

    PS:
    Mohon maaf kalau menyatakan pikiran buruk yang mungkin belum teruji ini: tapi seringkali para teolog terlalu sibuk dengan buku-buku doktrin dan tidak lagi secara sederhana menceritakan apa isi Alkitab, apa yang Alkitab ingin sampaikan. Akibatnya pesan kekristenan simpang siur tidak diterima dengan jelas oleh jemaat.
    Kekristenan is GOOD news, Allah mengasihi kita dan rindu memiliki hubungan dengan kita. Para nabi, Kristus, semuanya untuk tujuan itu: Allah mengasihi kita dan ingin memiliki hubungan dengan kita.
    Jangan sampai pesan kekristenan menjadi BAD news dalam pikiran orang-orang karena simpang siurnya/tidak jelasnya/banyaknya penekanan yang lain sehingga pesan utamanya hilang.

Leave a Reply